Senin, 11 Mei 2015



Mata Kuliah                : Liturgika
Dosen Pengampu        : Sanip Surbakti, M.Th
Tugas                           : Makalah (Liturgy Ibadah Protestan: HKBP)
Nama                           : Boy Rio Sinaga
Semester                      : VIII (Delapan)

BAB I
PENDAHULUAN
Gereja memiliki peran yang amat menentukan perwujudan narasi injil Yesus Kristus kepada semua orang, – secara khusus kepada  warga jemaat dalam berbagai kesempatan peribadatan yag dikembangkan – agar diselamatkan dalam kehidupan yang kekal. Pemberitaan injil yang objektif bukan hanya melalui pengabdian diri kepada badan injil atau misi atau pun lembaga tertentu kemudian ditempatkan di daerah untuk menginjili, tetapi bisa dalam bentuk yang sederhana seperti pemantapan pola ibadah formal yang dikembangkan, seperti liturgi yang digunakan dalam setiap ibadah agar lebih up to date, kreatif, inovatif serta memberi warna baru yang mengesankan, namun tetap pada koridor semata-mata untuk memuliakan Tuhan.
            Dewasa ini, tidak sulit untuk menemukan bentuk liturgi; baik ibadah minggu di gereja maupun ibadah-ibadah kategorial yang sifatnya monoton dan membosankan warga jemaat yang dilayani. Liturgi demikian membuat jemaat menjadi kurang bergairah dalam mengikuti ibadah di tambah lagi dengan kerap kalinya petugas ibadah mekukan kesalahan dalam ibadah, sehingga potensi-potensi “peralihan” warga jemaat ke gereja lain menjadi taerbuka lebar. Fakta ini tentu miris dan memprihatinkan untuk didengar, sebab yang dituju pada saat ibadah bukan “relasi vertikal”, manusia dan sesamanya (petugas ibadah dan warga jemaat) tetapi sosok ilahi yang berkuasa dan Maha Kuasa atas hidup dan kehidupan umat manusia “relasi horizontal”, karena itu Dia layak diberi puji dan sembah dengan sajian pujian dan liturgi yang baik dan sempurna. Meskipun demikian, yang menjadi proritas tentu saja bukan pada mantapnya liturgi yang dikembangkan tetapi kesungguhan dan keseriusan dalam keseluruhan ibadat yang dikembangkan bersama, sehingga sungguh-sungguh berkenan dan memuliakan Tuhgan.
            Ke-otentikkan sajian pujian kepada Tuhan bukan diukur dari jenis musik yang digunakan dalam mengiringi ibadat, sebab semua jenis musik – seharusnya – memang diciptakan untuk kepujian dan kemuliaan bagi nama Tuhan saja (bdk. Mazmur 33 : 2 - 3).  Karena itu, tidak ada pembatasan terhadap penggunaaan instrumen musik untuk mengiringi ibadat, asalkan digunakan dengan baik, tertata rapi dan indah didengar serta membantu jemaat untuk makin menumbuh-kembangkan iman kepercayaan kepada sang pencipta. Musik yang dimainkan memiliki aspek “rubah” dan mempengaruhi seseorang pada sisi psokologisnya. Karena itu, musik apapun yang digunakan dalam mengiringi ibadat di gereja diharapkan memainkan peran itu, namun tetap menyatu dengan liturgi yang disajikan agar tujuan liturgi tercapai, yaitu memuliakan Allah dengan hati yang sungguh.
BAB II
STUDY LITURGI IBADAH MINGGU PROTESTAN: HKBP
TERMINOLOGI
Ibadah dalam konsep Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai arti pelayanan. Dalam istilah Ibrani disebut avoda sedangkan dalam bahasa Yunani disebut latreia. Istilah avoda merujuk kepada ibadah di kuil dan khusus lebih mengarah dalam hal berdoa.[1] Abineno menunjukkan bahwa kata ‘ibadah’ yang biasanya digunakan dalam PB terjemahan dari istilah Yunani adalah:[2]
  1. leiturgia (λειτουργια) Kis.13:2, beribadah kepada Allah
  2. latreia (λατρεια) Roma 12:1, mempersembahkan seluruh tubuh
  3. thereskeia (θρησκεια) Yak.1:27, pelayanan kepada orang yang dalam kesusahan.
Jadi ibadah adalah avoda atau latreia yang sebenarnya yang merupakan suatu pelayanan yang dipersembahkan/ketaatan kepada Allah, tidak hanya dalam arti ibadah di Bait Suci (berdoa), tetapi juga dalam arti pelayanan kepada sesama (Luk.10:25; Mat.5:23, Yoh.4:20-24, Yak.1:27).[3] Namun leitourgia juga digunakan untuk menunjuk pelayan rumah tangga dan pegawai pemerintah semisal menarik pajak.[4] Secara harfiah, leitourgia berarti kerja atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa. Menurut asal-usulnya, istilah leitourgia memiliki arti profan-politis, dan bukan arti kultis sebagaimana biasa dipahami. Baru sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas,yakni untuk menyebut berbagai macam karya pelayanan.[5] Baru sejak abad kedua sebelum masehi para penerjemah Alkitab dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) memilih kata Yunani leitourgia untuk menerjemah kata Ibrani abodah yang berarti “pelayanan” khususnya pelayanan para Imam dan orang-orang Lewi di hadapan Tuhan.[6]
ARTI IBADAH KRISTEN[7]
Ibadah adalah bentuk ekspresi berupa tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dalam konteks Kristen maka diperlukan definisi yang jelas mengenai bagaimana bentuk Ibadah Kristen ? Salah satu cara untuk mendefinisikan Ibadah Kristen yaitu dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, metode ini dengan jelas akan menjelaskan apa yang biasanya akan dilakukan orang Kristen dalam beribadah. Selain itu pendekatan yang lain yaitu mencari definisi dari para teolog kristen tentang apa itu Ibadah Kristen. Sedangkan yang terakhir dapat dilakukan dengan memeriksa beberapa kata kunci yang sering muncul pada saat beribadah.

Fenomena Ibadah Kristen
Metode atau pendekatan fenomenologis ini membuka peluang bagi orang luar maupun dalam untuk dapat meneliti bentuk-bentuk ibadah Kristen yang sering dilakukan dengan salah satunya memperhatikan struktur-struktur ibadah yang sudah tersusun. Ibadah Kristen adalah bentuk kegiatan yang terstruktur dan berlandaskan pada pengaturan waktu, selain itu juga ada perhatian mengenai ruangan dan perlengkapan pendukung kegiatan ibadah.
Definisi-definisi ibadah Kristen
Cara terbaik untuk menangkap arti dari setiap istilah adalah dengan mengamati penggunaannya dari pada langsung memberikan definisi secara sederhana. Salah satu contoh adalah pengamatan dari Prof.Paul W.Hoon seorang Metodis yang menulis dalam bukunya The Integrity of Worship bahwa Ibadah harus dilihat secara fundamental Kristologis, ibadah Kristen terkait secara langsung pada sejarah penyelamatan, kehidupan ibadah adalah kehidupan liturgis. Menurut Hoon ibadah Kristen adalah penyataan diri Allah sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Kata kuncinya adalah “penyataan” dan “tanggapan”.
Justin Martyr menggambarkan liturgi (tata cara urutan ibadah) Kristen di First Apology kepada Penguasa Antoninus Pius pada abad ke-2, dan penggambarannya masih relevan untuk menggambarkan struktur dasar dari liturgi ibadah Kristen. Justin menggambarkan, orang Kristen berkumpul untuk ibadah bersama pada hari Minggu, yaitu hari Yesus bangkit dari kubur. Pembacaan Firman Tuhan diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tapi terutama dari Injil. Pada akhir dari liturgi ibadah, diadakan Perjamuan Kudus, untuk memperingati pengorbananYesus.[8]
Peter Brunner seorang Lutheran dalam bukunya Worship in the name of Jesus dengan kata Gottesdienst atau ibadah memiliki pengertian pelayanan Allah kepada manusia dan sebaliknya pelayanan manusia kepada Allah. Luther menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di dalamnya kecuali bahwa Tuhan kita yang pengasih itu senditi berbicara kepada kita melalui firman-Nya yang kudus dan bahwa kita pada gilirannya berbicara kepadanya dalam bentuk doa dan nyanyian.
Sedangkan menurut Prof. Jean-Jacques von Allemen yang adalah seorang Reformed dalam bukunya Worship: Its theology anda practice menjelaskan bahwa ibadah Kristen adalah sebuah rekapitulasi (atau pengulangan dari apa yang telah dibuat Allah). Ibadah adalah pemulihan dan penegasan secara baru proses sejarah penyelamatan yang telah mencapai titik puncaknya dalam intervensi Kristus kedalam sejarah menusia dan melalui peringkasan serta penegasan yang selalu diulang ini Kristus melanjutkan karya penyelamatan-Nya melalui karya Roh Kudus. Ibadah adalah epifani (penampakan diri) gereja yang karena menyimpulkan sejarah keselamatan memapukan gereja untuk menjadi dirinya sendiri untuk menjadi sadar akan dirinya sendiri dan untuk mengakui apa yang sebenarnya esensial. Ibadah juga adalah bentuk  ancaman penghakiman dan pengharapan kepada dunia. Tiga kata kunci untuk pemahaman von Allmen adalah rekapitulasi, epifani dan penghakiman.
Dari tradisi Anglo-Katolik Evelyn Underhill dalam bukunya Worship mengekspresikan sejumlah konsep tentang ibadah adalah tanggapan ciptaan kepada Yang Abadi. Upacara merupakan ekspresi emosi keagamaan, Ibadah Kristen adalah tindakan supranatural yang melibatkan tanggapan khas terhadap pernyataan yang khas.
Dari pandangan Ortodoks Prof.George Florovsky menjelaskan bahwa Ibadah Kristen adalah jawaban manusia terhadap panggilan ilahi dari tindakan Allah yang penuh kuasa dan berpuncak melalui tindakan pendamaian dari Kristus. Menjadi orang Kristen dan menjalankan ibadah adalah dengan melakukan persekutuan, berada dalam suatu komunitas di dalam Gereja.
Teolog Ortodoks lainnya yakni Nikos A.Nissiotis menekankan kehadiran dan tindakan Allah Trinitas dalam ibadah. Ibadah adalah inisiatif pendamaian Allah dalam Kristus melalui Roh-Nya Oleh kekuatan Roh Kudus gereja dapat menawarkan ibadah yang memberi sukacita sebagai tindakan dari Allah Trinitas maupun ditujukan kepada Allah Trinitas
Dalam Roma Katolok ada konsep pemuliaan Allah dan pengudusan manusia konsep ibadah seperti ini memberikan gambaran bahwa Ibadah untuk adalah bentuk memuliakan Allah yang dilakukan oleh orang-orang kudus. Kedua konsep ini berjalan bersamaan dimana kemuliaan Allah dinyatakan ketika manusia memelihara kekudusan hidup, tidak ada suatupun yang mungkin membuat seseorang menjadi kudus selain dari keinginan untuk memuliakan Allah.
Bahasa yang digunakan orang-orang Kristen tentang ibadah
Ada beberapa kata kunci yang telah dipilih oleh komunitas Kristen yang dipakai ketika berbicara tentang ibadah. Terkadang kata tersebut bermakna sekuler tetapi kata ini dipakai sebagai ekspresi untuk ibadah. Beberapa kata yang perlu kita pahami adalah sebagai berikut:
  1. Gottesdienst: Pelayanan Allah dan pelayanan kita kepada Allah. Kata dienst tidak memiliki akar kata dalam bahasa Inggris, kata ini mengarah kepada bengkel-bengkel dan pompa bensin di Jerman, kata yang paling memadai adalah service atau pelayanan. Pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan demi orang lain, untuk kepuasan orang lain. Gottesdienst merefleksikan suatu Allah yang telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba (Flp.2:7) dan pelayanan kita kepada Allah.
  2. Liturgy berasal dari bahasa Yunani leitourgia yang terdiri dari kata bekerja (ergon) dan umat atau rakyat (laos). Pekerjaan yang dilakukan rakyat demi kepentingan kota atau negara.
  3. Cult dalam bahasa Inggris lebih menyatakan hal yang aneh (tidak biasa) tetapi memiliki fungsi yang luhur dari bahasa Prancis le culte, Italia  il culto dan Latin colere adalah istilah agraris yang berarti menanam. Kata-kata ini memiliki istilah yang kaya jauh lebih kaya dari kata worship karena kata ini menunjukkan rasa bertanggung jawab baik sang petani maupun tanahnya atau ternaknya. Kalau petani tidak memberi makan ayam maka tidak akan ada telur, jika tidak menyiangi maka tidak akan ada hasil sayur mayur. Jadi ada hubungan timbal balik.
  4. Proskunein, yang memberikan konotasi fisik eksplisit yaitu merebahkan diri untuk menyembah dan bersujud (Why.5:14). Ini adalah penggambaran posisi tubuh yang nyata dari ibadah yang digambarkan lewat kata kerja.
  5. Thusia dan prosphora, Thusia memberikan gambaran tentang persembahan yang hidup (Rm.12:1), Prosphora adalah tindakan mempersembahkan korban.
  6. Threskeia, yang berarti pelayanan keagamaan atau ibadah (Kis.26:5, Kol.2;18 dan Yak.1:26)
  7. Sebein, orang-orang yang takut akan Allah yang beribadah (Kis.12:50, 16:14)
  8. Homologein, mempunyai sejumlah arti sebagai pengakuan dosa (1 Yoh.1:9)
Istilah Liturgi dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani kata liturgi dijumpai sebanyak 170 kali dari kata abodah.[9] Kata ini mengandung dua pengertian dengan memakai istilah sher`et  yang menekankan ungkapan perasaan dalam pengabdian diri serta kesetiaan kepada majikan dan abh`ad  lebih menekankan ketaatan kerja seorang hamba (budak, abdi) kepada tuannya. Kedua istilah ini juga dipakai dalam pengertian profan tetapi dalam pengertian religius selalu dimaksudkan dengan ibadah yang diarahkan kepada Allah oleh para imam Lewi di Bait Suci.
Istilah sher`et dan abh`ad  tidak dimaksudkan untuk ibadah umum oleh seluruh umat tetapi secara khusus yang dilaksanakan oleh suku Lewi kepada Allah untuk kepentingan seluruh umat Israel (Bil.16: 9). Istilah yang digunakan untuk menggambarkan ibadah yang dilakukan oleh seluruh umat Israel ialah kata latreia dan douleia terpisah dan berbeda dari peribadahan suku Lewi yang dipandang lebih tinggi dan terhormat dengan corak perayaan yang khusus.[10] Dalam Perjanjian Lama terjemahan Septuaginta istilah leitourgia digunakan untuk pelayanan ibadah para imam kaum Lewi. Sedangkan tindakan kultis umat biasanya diungkapkan dengan istilah latreia (penyembahan).
Istilah Liturgi dalam Perjanjian Baru
Kata leitourgia dan leitourgein mengalami perkembangan dalam Perjanjian Baru. Dalam Luk.1: 23,  leitourgia masih memiliki makna yang sama dengan penggunaannya dalam LXX (Septuaginta) yaitu pelayanan imam. Dibandingkan dengan tulisan Perjanjian Baru yang lain, surat Ibrani merupakan kitab yang sering menggunakan kata leitourgia dan leitourgein (Ibr.8: 6, 9: 21, 10: 11) dengan konteks yang sama sekali baru. Penulis Ibrani menggunakan kata leitourgia untuk menjelaskan makna imamat Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imamat Perjanjian Baru.[11] Imamat Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama.
Pada tulisan Perjanjian Baru yang lain, penggunaan kata leitougia atau leitourgein memiliki makna yang berbeda-beda. Kis.13: 2 merupakan satu-satunya teks yang menggunakan kata liturgi menunjuk ibadah. Dalam Rm.15: 16 Paulus disebut pelayan (leitourgos) Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil. Dalam 2Kor.9, 12 dan Rm.15: 27 kata “liturgi” berarti sumbangan yang merupakan tindakan amal kasih bagi saudara-saudara seiman di tempat lain. Dalam teks-teks seperti Flp.2: 25, 30, Rm.13: 6, Ibr.1: 7, kata liturgi memiliki arti melayani dalam arti yang biasa.
Selanjutnya G.Riemer[12] mengungkapkan bahwa istilah leitourgia dalam Perjanjian Baru terdapat 15 kali dengan makna yang berbeda-beda. Luk.1: 23, Ibrani 9: 21, Ibr.10: 11 merujuk kepada tugas imam. Ibr.8: 2, Ibr.8: 6 menguraikan pelayanan Kristus sebagai imam. Rm.15: 16 merujuk kepada pekerjaan rasul dalam pekabaran Injil kepada orang kafir. Flp.2: 17 sebagai kiasan untuk hal percaya. Ibr.1: 7, 14 merujuk kepada pekerjaan malaikat-malaikat melayani. Rm.13: 6 mengacu kepada jabatan pemerintah. Rm.15: 27, Flp.2: 25, Flp.2: 30, Flp.4: 18 merujuk kepada pengumpulan persembahan untuk orang miskin. Kis.13: 2 mengacu kepada kumpulan orang yang berdoa dan berpuasa.
Perjanjian Baru menggunakan pelbagai istilah untuk ibadah. Kata latreia yang diterjemahkan sebagai pelayanan atau ibadah. Kata ini digunakan untuk menyatakan kewajiban menerapkan hidup beribadah bagi umat (Flp.3: 3). Kata proskunein yang diterjemahkan untuk merebahkan diri, menyembah atau bersujud (Mat.4: 10; Luk.4: 8). Kata thusia yang diterjemahkan sebagai persembahan kurban dalam bentuk perayaan yang ditunjukkan melalui perbuatan (1Kor.10: 20, Ibr.13: 15). Kata prosphora sama dengan kata thusia menyatakan tindakan mempersembahkan kurban yang ditujukan kepada Kristus (Ibr.10: 10). Kata threskeia yang diterjemahkan sebagai pelayanan keagamaan atau ibadah (Kis.26: 5, Kol.2: 18). Kata sebein diterjemahkan untuk menunjuk ke ibadah (Mat.15: 9, Mrk.7: 7). Kata homologein mempunyai sejumlah arti seperti pengakuan dosa (1Yoh.1: 9), mengaku dengan mulut atau ucapan bibir (Rm.10: 9, Ibr.13: 15).[13] 
Istilah Liturgi dalam Sejarah Gereja Selanjutnya
Dalam masa pasca para rasul, kata liturgi sudah digunakan untuk menunjuk kegiatan ibadat atau doa Kristiani. Klemen dalam suratnya (1Klemen 41: 1) menyebut istilah liturgi untuk menunjuk pelayanan ibadat baik kepada Allah maupun kepada jemaat yang dilakukan oleh uskup, imam, dan diakon. Akan tetapi, sejak abad-abad pertengahan, kata “liturgi” hanya terbatas digunakan untuk menyebut perayaan Ekaristi saja. Pebatasan ini terjadi di Gereja Timur dan Gereja Barat.
Penggunaan kata “liturgi” bagi penyebutan Ekaristi hingga kini tetap dipertahankan di Gereja Timur, sedangkan untuk perayaan-perayaan ibadat lainnya dipakai sebutan doa atau tata perayaan (Yunani: taxis, Latin: ordo). Dalam Gereja Barat, istilah “liturgi” lama menghilang,[14] baru mulai abad ke-16 istilah “liturgi” kembali dikenal. Gereja-gereja Reformasi menggunakan kata Liturgi mulai pada abad ke-17 dan 18 dengan arti ibadat Gereja.
Kemudian Gereja Katolik Roma mulai memakai kata sifat liturgicus untuk menunjuk hal-hal yang berkaitan dengan ibadat. Kata benda liturgia baru digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik Roma pada abad ke-18. Akhirnya, Konsili Vatikan II membakukan istilah “liturgi” untuk menyebut “peribadahan Gereja” dalam Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium (SC).  
Istilah Liturgi pada Masa Kini
Dewasa ini kata liturgi adalah sebutan yang khas untuk perayaan ibadah Kristen. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, yakni ebdu atau abdu (abdi = hamba). Kata ini sejajar dengan bahasa Ibrani, yakni abodah (ebed = hamba). Artinya perbuatan untuk untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait seerat-eratnya dengan suatu kegiatan manusia kepada Allah, yakni dengan pelayanan kepada Tuhan.[15] Rasul Paulus dalam Rm.12: 1 menuliskan tentang “ibadah sejati” dalam kaitan dengan persembahan hidup. Liturgi sebagaimana pemahaman Paulus adalah juga sikap beriman sehari-hari tidak terbatas pada perayaan Gereja.
Selain liturgi, kata dalam bahasa Indonesia yang sejajar ialah kebaktian. Bhakti (Sansekerta) ialah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, sikap memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan baik untuk seseorang, Negara, maupun untuk Tuhan yang dilakukan dengan sukarela. Pada pihak lain kebaktian mempunyai makna luas, yakni sikap hidup sebagai pelayan Tuhan menyangkut tabiat, perbuatan, karakter, atau pola pikir yang ditujukan secara utuh dan nyata oleh orang percaya di dalam dunia.
Ketiga kata dalam bahasa Indonesia tersebut, yaitu: liturgi, kebaktian dan ibadah, digunakan secara sama dan sejajar. Namun sekalipun demikian dalam pemahaman sehari-hari ada perbedaannya. Kata liturgi sering digunakan dalam kaitan dengan disiplin ilmu, teologi, atau cara resmi dan agung sebagaimana dalam Gereja Roma Katolik. Di seminari ada mata kuliah liturgi, tetapi tidak disebut mata kuliah kebaktian atau ibadah. Kata kebaktian lebih sering digunakan untuk menunjuk perayaan peribadahan. Sementara kata ibadah cenderung digunakan untuk perayaan agama apapun, bahkan agama-agama tradisi dan agama suku. Lazimnya orang menyebut ibadah Yahudi atau ibadah di Masjid, tetapi tidak kebaktian Yahudi atau liturgi di Masjid.[16]

KEBAKTIAN MINGGU HKBP
A.      SEJARAH SINGKAT PRAKTIK PERIBADAHAN HKBP
  1. SECARA HISTORIS BERASAL DARI TIGA JALUR:
  • Hasil misi pekabaran injil RMG bercorak uniert (Lutheran, Roma Katolik, Calvinis)
  • Pergumulan gereja HKBP sendiri (HKBP manjungjung baringinna, 12 juli 1940)
  • Pengaruh budaya atau adat batak (preparatio evanggelica)
2.  PRAKTIK PERIBADAHAN DARI HASIL MISI:
  • Roma Katolik: nyanyian berjiwa pietis
  • Calvinis: nyanyian-nyanyian Mazmur, pembacaan Hukum Taurat
  • Uniert: nyanyian koor (gregorian)
 B.      PERKEMBANGAN PRAKTIK PERIBADAHAN HKBP
  • Tahun 1903 agenda sudah disusun, namun pelaksanaannya tidak seragam di semua gereja
  • Tahun 1904 agenda gereja batak yang ditulis jung dan steinsieck berasal dari prusia disusun 23 orang ahli teologi gereja lutheran dan reformiert (calvinis) ditetapkan dua liturgi untuk kebaktian:
1.    Khusus pendeta: pembacaan votum dan introitus,   berita pengampunan dosa, dan berkat
2.    Khusus guru jemaat dan penatua: nyanyian, hukum taurat, dan epistel
  • Tahun 1906 agenda cetakan ke-2 disusun oleh Johannes Warneck dan tidak ada pembedaan liturgi antara pendeta dan penatua, hanya formulasi doa berkat yang berbeda tahun 1906/1907 lahir tata gereja yang memuat pelaksanaan kebaktian minggu, pernikahan, penguburan, katekisasi sidi, pendidikan umum, dan kedua sakramen.
  • Pada masa Nomensen tata ibadah tidak menjadi fokus perhatian, yang ditekankan adalah pengkristenan orang batak dengan cara: bernyanyi, berdoa dan pemberitaan firman Tuhan, membicarakan firman Tuhan selama mungkin, dan tanya jawab tentang alkitab.
  • Rapat pendeta HKBP 1957 mendiskusikan liturgi 1861-1940 yang tidak seragam, karena agenda HKBP Mentawai pengakuan dosa lebih dulu dari pembacaan hukum taurat.
  • Agenda tahun 1984 memuat 18 tata kebaktian untuk melaksanakan setiap jenis kebaktian dan ini telah diberlakukan sejak hkbp manjungjung baringinna 12 juli 1940
  • Tahun 1988 muncul agenda na metmet yang memuat: pandidion na hinipu, pamasumasuon di huta, pananomon na mate
  • Keputusan sinode agung ke-49 tahun 1988 kebaktian minggu secara resmi diselenggarakan dalam dua bahasa (Batak dan Indonesia)
  • Tahun 1991 rapat pendeta HKBP di seminarium sipoholon dimuat keputusan memperhatikan keterlibatan jemaat dalam ibadah dalam hal pembacaan epistel secara responsorial
  • Sinode godang HKBP tahun 1998 di pematang siantar, merekomendasikan komisi liturgi untuk terbuka menjawab tuntutan jemaat mengenai pembaruan liturgi. Dimungkinkannya gereja loka membuat liturgi alternatif, kontemporer secara kontekstual, tanpa menghilangkan unsur-unsur liturgi yang ada
  • Aturan & peraturan HKBP 2002 pasal 23, kepada komisi liturgi dan ibadah diberi mandat: meneliti liturgi yang dibutuhkan jemaat sesuai perkembangan zaman; menyusun liturgi sesuai kegiatan yang belum diatur dalam agenda
Catatan:
  • Agenda yang dipakai HKBP sekarang tidak jauh berbeda dari agenda tahun 1940
  • HKBP membuka diri terhadap pembaruan tata ibadah

PEMAHAMAN UNSUR-UNSUR IBADAH HKBP
1.       NYANYIAN-NYANYIAN:
  • Nyanyian pembuka sebelum votum: nyanyian pujian (pujipujian), dan nyanyian doa dan permohonan
  • Nyanyian setelah votum: nyanyian kepercayaan (haporseaon)
  • Nyanyian setelah pembacaan HT: nyanyian peneguhan, pengakuan dosa dan belas kasihan Kristus
  • Nyanyian setelah pengakuan dosa: nyanyian pujian syukur karena Tuhan telah mengampuni dosa
  • Nyanyian setelah pembacaan epistel: nyanyian sambutan akan firman Tuhan
  • Nyanyian setelah pengakuan iman: nyanyian yang sesuai dengan isi khotbah
  • Nyanyian setelah khotbah: nyanyian sesuai tema khotbah, pengaminan akan firman Tuhan, pengutusan

A.      NYANYIAN DALAM LITURGI:
  • Fungsinya merangkai setiap unsur-unsur liturgi yang ada, sehingga membentuk satu perayaan liturgi
  • Nyanyian adalah ekpresi hati umat mengungkapkan jati dirinya dalam pujian dan ucapan syukur
  • Dimensi nyanyian dalam liturgi: aklamasi (jawaban iman), proklamasi (pemberitaan), dan credo (pengakuan)

  1. UPAYA PEMBARUAN DALAM NYANYIAN LITURGI
  • Bersahutsahutan, misal: bila nyanyian tiga bait dinyanyian dgn cara bait satu semua jemaat, bait dua laki-laki, bait tiga perempuan.
  • Melantunkan (pendarasan=ruminasi): semua jemaat bernyanyi secara bersamaanantifonal: bernyanyi bersahutan antara dua kelompok penyanyi. Lazimnya berbalasan antara kiri dan kanan, atau lelaki dan perempuan.
  • Responsoria: nyanyian bersahutan antara satu dgn sekelompok orang (digunakan gereja sejak awal)
  • Alternatim: bergilir antara dua atau beberapa kelompok untuk setiap bait. Mis: bait satu untuk paduan suara, bait dua untuk pemuda, dll.
  • Gregorian: bernyanyi dlm bentuk koor

CARA INI DIPAKAI OLEH GEREJA MAIN STREAM DAN JUGA MARTIN LUTHER DAN DIKATAKAN NYANYIAN JEMAAT HARUS DINYANYIKAN BERVARIASI
 1.       VOTUM-INTROITUS-DOA
A. VOTUM = VOTE = PERNYATAAN
  • Pernyataan kehadiran Allah dalam ibadah yang diungkapkan dalam doa bahwa segala sesuatu berlangsung di dalam nama Alllah Bapa, Anak dan Roh Kudus, (kol.3:17)
  • Pernyataan bahwa umat yang hadir dalam ibadah adalah sebagai persekutuan orang percaya
  • Gereja katolik biasa mengucapkan formula ini sambil membuat tanda salib
 B. INTROITUS = INTRO
  • Prosesi atau perarakan masuk (sebagaimana umat israel melakukan perarakan menuju tanah perjanjian)
  • Dilakukan dari pintu utama menuju altar atau mimbar
  • Abad 19 gereja lutheran melaksanakan introitus dengan cara bernyanyi gregorian (paduan suara) sebagai tanda masuk pelayanan disambut dengan gloria (haleluya)
  • HKBP melaksanakannya melalui pembacaan alkitab yang dihubungkan dengan tahun gerejawi disambut dengan nyanyian haleluya. Bedanya gereja lutheran melaksanakannya sebelum votum – hkbp setelah votum. Gereja reformiert melaksanakannya sebelum votum.
 C.  DOA
  • Pemilihan rumusan doa dihubungkan dengan nama Minggu dan tahun gereja
2.       PEMBACAAN HUKUM TAURAT
  • Cermin bagi umat bagaiman bersikap dan berperilaku  yang berporos dalam dua sumbu yaitu mengasihi tuhan dan sesama manusia
  • Umat diingatkan akan tanggungjawab orang percaya dalam hidup seharihari secara vertikal dan horizontal
  • Hukum taurat tidak boleh dibacakan tanpa inti hukum (mat. 22:37-40)
  • Hkbp tidak selalu dari Hukum Taurat (kel. 20:1-17), namun diperbolehkan dari konfessi, siasat gereja, dan nas alkitab bernada imperatif. Sekalipun itu diperbolehkan perlu diperhatikan supaya pemilihan nas alkitab jangan terlalu panjang, sifatnya imperatif dan mengandung inti hukum
 3.       PENGAKUAN DOSA DAN BERITA ANUGERAH
A. DOA PENGAKUAN DOSA
  • Umat mengaku bahwa dirinya berdosa kepada Tuhan dan sesama (yes. 59:1-6), sehingga sangat penting permohonan pengampunan dosa dalam liturgi
  • Umat tidak dapat terus berjalan tanpa dosannya diampuni oleh Tuhan, karena dosa itu pemisah hubungan antara Tuhan dan manusia. Supaya hubungan itu dipulihkan maka dari manusia perlu pengakuan bahwa dirinya berdosa.
 B. BERITA ANUGERAH (ABSOLUSI)
  • Esensi adalah pemberitaan anugerah Allah di dalam Kristus yang telah mendamaikan dirinya dengan manusia, penguatan, penghiburan, sukacita, dan pengharapan bagi manusia (2tes, 2:15,17)
 C.      PELAKSANAAN DI HKBP:
  •  Rumusan pengakuan dosa bersifat umum, masih mengikuti rumusan lama (tradisional)
  • Guna menghindari rumusan ini menjadi kebiasaan, diperlukan membuat rumus-rumus baru yang disesuaikan dengan situasi jemaat, menyangkut isu yang berkembang, pekerjaan, keadilan, lingkungan, hak-hak manusia, dll.
  • Setelah berita anugerah umat menyambutnya dengan gloria (kemuliaan bagi Allah…) amin.
  • Pada awalnya gloria adalah nyanyian jemaat atas berita anugerah, bukan pembacaan yang dibacakan pemimpin liturgis
  • Sebaiknya gloria ini dinyanyikan sebagai sambutan jemaat atas berita anugerah. Bila mungkin digubah dengan melodi batak
 4.       PEMBACAAN EPISTEL
  • Pembacaan diambil dari PL dan PB surat-surat Rasul, mengikuti tradisi gereja abad pertama.
  • Pembacaan dikaitkan dengan nas khotbah
  • Fungsi pembacaan ini adalah ajaran, penguatan, tuntunan hidup baru, pengharapan, dan penghiburan
 5.       PENGAKUAN IMAN
  • Substansi adalah umat mengaku keberadaan Allah, tindakan Allah, sumber dan akhir kehidupan, yang mengatur ciptaan dan memberi kehidupan manusia di akhirat.
  • Fungsinya adalah menunjukkan identitas diri kepada dunia sebagai orang beriman
  • Mengungkapkan bahwa melalui karya Allah manusia diselamatkan
  • Mengungkapkan kesatuan orang percaya di dlm dunia
  • HKBP mengikuti pola Luther, menempatkan pengakuan iman sebelum khotbah – calvinis setelah khotbah, kenapa? Luther melihat pi sebagai doa setelah epistel sebagai amanat hidup baru umat datang mengaku. Calvinis melihat pi sebagai jawaban terhadap khotbah.
  • Pada masa reformasi PI digubah ke dalam prosa atau nyanyian, dan Luther sendiri menyuruh jemaat me nyanyikan PI (deutsce messe, 1525)
  • Mungkinkan HKBP melakukan itu? Menyanyikan PI yang digubah dalam bhs Batak?
  • Mungkinkah HKBP mengucapkan rumusan pengakuan iman Niceanum, Constantinopolitanum dan Athanasium, disamping PIR?
 6.       DOA SYAFAAT
  • Syafaat (Arab=syafaah, Ibrani=syofet, Inggris= intercession) artinya : perantara, berada antara pelayanan mimbar dan altar (antara pemberitaan firman dan persembahan atau misa). Luther melakukan seperti itu
  • HKBP melakukan sesuka hati? Ada sebelum khotbah, setelah warta jemaat, ada yang sama sekali tidak melakukan. Dalam liturgi doa syafaat harus dilakukan
  • Di agenda HKBP ada rumusan doa syafaat setelah doa persembahan. Inilah yang benar.
  • Mungkinkah HKBP membuat rumusan baru doa syafaat menambah rumusan lama di agenda? Disesuaikan dengan pergumulan warga jemaat atau isu yang berkembang secara lokal, nasional, dan global.
 7.    DOA EPIKLESE, PEMBACAAN ALKITAB, KHOTBAH
  • Epiklese = doa permohonan akan pimpinan (penerangan) Roh Kudus, menuntun umat mendengar firman Allah
  • Rumusan doa epiklese tidak panjang, namun pendek, tegas, dan agung
  • HKBP tidak konsisten? Bila pendeta: memakai rumusan  berkat, damai sejahtera Allah…, bukan doa epiklese; bila non pendeta: mengucapkan doa, namun panjang.
  • Sebaiknya HKBP bagaimana? Mengucapkan doa epiklese sebelum pembacaan alkitab dan khotbah, rumusannya tidak terlalu panjang, namun pendek, tegas dan agung
 8.    DOA PENUTUP
A.      DOA PERSEMBAHAN
Mendoakan persembahan yang telah terkumpul sebagai pemberian Allah sekaligus ucapan syukur jemaat kepada Allah. Juga di dalamnya terkandung persembahan  hidup warga jemaat
B.      DOA BAPA KAMI
Mengikuti rumusan doa yang diajarkan Yesus Kristus kepada para murid (Mat. 6:9-13)
C.      BERKAT
Mengikuti rumusan doa berkat yang ada di dalam kitab Bilangan 6:22-27. Maknanya adalah jaminan bahwa Tuhan yang melindungi dan memberkati umat miliknya, dan jemaat menyambutnya dengan amin.

TRILOGI TATA IBADAH
A.      TATA IBADAH:
  • Tata = kaidah, sistem, prinsip, norma supaya ada keteraturan (”…harus berlangsung dengan sopan dan teratur, 1kor. 14:40)
  • Tata ibadah disusun supaya teratur dan berlangsung dengan sopan
 B.      PRINSIP MEMBANGUN TATA IBADAH:
  • Keutuhan (saling menyambung dengan unsur-unsur lainnya)
  • Timbal balik (pernyataan dan respon, berbicara dan menjawab)
  • Seimbang (nyanyian, doa, khotbah)
  
KONSEPSI RANGKAIAN UNSUR IBADAH HKBP
  1. Nyanyian pujian sebagai tanda kesiapan jemaat memulai ibadah. Dilanjutkan dengan…
  2. Votum sebagai pernyataan atau proklamasi bahwa ibadah dilangsungkan di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Allah sendiri yang mengumpulkan jemaat dalam ibadah, dan jemaat menyambutnya dengan gloria kecil sebagai pujian atas kemurahan Allah yang telah memanggil dan mengumpulkan jemaat. Doa dilantunkan sebagai tanda penyerahan kepada Allah. Dilanjutkan dengan..
  3. Nyanyian pujian di mana jemaat diingatkan akan berkat Tuhan yang selalu nyata dalam hidup. Dilanjutkan dengan…
  4. Pembacaan hukum taurat sebagai cermin bagi jemaat, evaluasi diri, sekaligus melihat apa yang Tuhan kehendaki di dalam kehidupan setiap hari. Dilanjutkan dengan…
  5. Nyanyian pujian memohon kemurahan Allah atas dirinya yang gagal melakukan kehendak Allah. Dilanjutkan dengan…
  6. Pengakuan dosa: setelah jemaat bercermin kepada hukum taurat, maka jemaat menyadari dosa-dosanya. Jemaat hanya dapat beribadah atas dasar pengakuan dan penyesalan, dan jemaat sadar bahwa hanya Allah sendiri yang dapat mengampuni dosanya. Kemudian atas penyesalan maka Allah memberi jaminan pengampunan, dan merangkul umatnya di dalam kasih setianya. Dilanjutkan dengan…
  7. Nyanyian pujian sebagai respon jemaat terhadap pengampunan Allah, sebagai ungkapan syukur jemaat atas kemurahan Allah. Dilanjutkan dengan…
  8. Pembacaan epistel: jemaat sudah diampuni kini saatnya mendengar firman Tuhan sebagai tuntunan hidup baru dengan janji berbahagialah… dan jemaat mengamininya. Dilanjutkan dengan…
  9. Nyanyian pujian sebagai respon jemaat terhadap tuntunan hidup baru, dan sebagai tekad untuk melakukan hidup baru. Dilanjutkan dengan…
  10. Pengakuan iman percaya: sebagai ikrar jemaat bahwa hidup baru bisa diwujudkan di dalam pengakuan terhadap Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena hidup baru itu adalah miliknya dan pemberiannya. Pengakuan ini diucapkan dengan berani, tegas, sungguh, tulus, tanpa paksaan. Dilanjutkan dengan…
  11. Pembacaan warta jemaat. Intinya pemberitahuan kepada jemaat pelayanan gereja supaya jemaat peduli dan mendoakan pelayanan gereja. Dilanjutkan dengan…
  12. Nyanyian pujian sebagai ungkapan hati jemaat telah siap mendengar firman Tuhan. Dilanjutkan dengan…
  13. Doa epiklese-pembacaan alkitab-khotbah: diawali permohonan penerangan Roh Kudus, pemberitaan kerajaan Allah yang di dalamnya ada pengajaran, penghiburan, penguatan, dan keselamatan. Dilanjutkan dengan…
  14. Persembahan diikuti dengan nyanyian pujian: persembahan merupakan tanda pengucapan syukur atas berkat Tuhan terutama atas pendamaian dengan Tuhan melalui pengorbanan Kristus. Jemaatnya memberikannya dengan penuh puji melalui nyanyian. Dilanjutkan dengan…
  15. Doa penutup: mendoakan persembahan yang telah terkumpul, sekaligus doa untuk mempersembahkan keseluruhan hidup. Jemaat mengungkapkannya melalui nyanyian Tuhan karuniamulah… sebagai pengakuan bahwa apa yang dimiliki adalah pemberian Tuhan. Dilanjutkan dengan…
  16. Doa Bapa Kami sebagai doa umat yang diajarkan oleh kristus, di dalamnya termuat pujian, permohonan, penyerahan diri, dan pengakuan untuk dinyatakan di dalam kehidupan setiap hari. Dilanjutkan dengan…
  17. Berkat sebagai pengutusan jemaat setelah mengalami persekutuan yang indah dengan Tuhan dan sesama di dalam ibadah. Jemaat diutus bahwa Tuhan adalah jaminan hidup bagi umat. Dilanjutkan dengan…
  18. Doa majelis di konsistori sebagai ungkapan syukur majelis kepada Tuhan atas kemurahan Tuhan, membimbing, memakai majelis memimpin ibadah
Hasil wawancara dengan ibu Pdt Resna Tiarasi Malau, S.Th, Gembala jemaat HKBP Harapan Jaya.
Unsur-unsur Liturgi yang tertuang dalam tatanan liturgy HKBP merupakan suatu kebanggaan bagi jemaat HKBP dan sangat relevan sebagai suatu kebutuhan jemaat. Dan semuanya itu dibuat sesuai dengan kebutuhan dan tidak asal-asal dibuat.seperti votum yang mendeklarasikan kehadiran Allah dan didahului oleh lagu pembuka. Liturgy HKBP yang tidak mengalami perubahan tidak berdampak bagi jemaat. Liturgy tidak harus menyesuaikan zaman tapi nanyian bisa menyesuaikan. kalau kidung pujian di HKBP bersifat terbuka. Dalam acara-acara tertentu sudah dipakai lagu-lagu kontemporer seperti paskah naposo dan masih banyak lagi. Dan dalam agenda HKBP semua makna unsur liturgy sudah tertuang. HKBP mempunyai liturgy yang sistematis mulai dari minggu pertama sampai dengan Natal. Nyanyian disesuaikan dengan urutan liturgy. HKBP tidak terlalu kaku dengan lagu pujian. Tapi terkadang lagu membawa jemaat terlalu menghadirkan emosianal yang berlebihan. Ketika kita bernyanyi kita tidak berada diawang-awang tapi kita berada didunia yang realistis. Dan semua gereja yang merupakan pecahan dari HKBP tetap juga secara system tetap mengikuti gereja HKBP meskipun dalam bahasa yang berbeda. Yang menjadi alasan mengapa HKBP dalam memuji Tuhan lebih memilih suasana yang tenang. Karena itulah yang diajarkan oleh pengajaran para misionaris dan disesuaikan dengan budaya batak. HKBP selalu mempersiapkan jemaat yang visioner. Hal yang dibanggakan dan sekaligus menjadi titik koreksi yaitu realita jemaat yang HKBP yang apa adanya dalam memuji nama Tuhan. Ada juga penyataan yang mengatakan HKBP monoton, sebenarnya gereja lain juga monoton tapi karena tidak terus diikuti maka terkesan sangat luar biasa. Tapi kalau diikuti mungkin sama saja. Liturgy kadang membawa penyataan bahwa kita lebih baik dari yang lain. Cara bernyanyi harus mengejewantahkan lirik lagu jika nyanyian sukacita harus diekspresikan dengan sukacita. Inilah yang menjadi ironi di jemaat HKBP  terkadang lagu yang sukacita tidak diekspresikan dengan semestinya.

Asal-usul liturgy HKBP
Awalnya liturgy HKBP adalah Lutheran. Namun melihat kembali bahwa Lutheran juga masih ada yang mengikuti unsur-unsur liturgy Katolik. Seperti perjamuan kudus yang harus tiap minggu yaitu sebagai pelayanan meja. Kalau HKBP tidak tapi hanya pada momen tertentu seperti Paskah, Natal dan juga misalnya jika ada yang di Sidi. Ketika orang bertanya pada mulanya kepada Ephorus HKBP, Justin Sihombing; aliran HKBP itu apa? Dia mengatakan “HKBP is HKBP”. Yang menarik di agenda HKBP ada dua bangsa yaitu “bangsa nami (bangsa Indonesia) dan bangsa batak” dan hal ini sudah ingin direvisi sejak tahun 2000 tapi hingga saat ini belum juga dilakukan.




CONTOH LITURGY IBADAH MINGGU BERDASARKAN AGENDA HKBP
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·    Votum – Introitus  (Doa Pembukaan)
Di dalam Nama Allah Bapa,
dan Nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus
dan Nama Roh Kudus,
yang menciptakan langit dan bumi. Amin
·   Votum – Introitus.
Marhite-hite Goar ni Debata Ama,
dohot Goar ni AnakNa Tuhan JesusKristus,
dohot Goar ni Tondi Parbadia,
na tumompa langit dohot tano on. Amin
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·   Pembacaan Hukum Taurat / Hukum Tuhan
·   Manjaha Patik
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·    Pengakuan Dosa
·   Manopoti Dosa
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·    Epistel (Pembacaan Firman )
Biasanya dilakukan secara Responsoria
·       Epistel
Responsoria
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·    Pengakuan Iman Rasuli
·   Manghatindanghon Haporseaon
·    Warta Jemaat
·   Tingting
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·    Khotbah
·   Jamita
Nyanyian Bersama
Marende Huria
·    Doa Persembahan &
Nyanyian Persembahan
BE No.204
·   Tangiang Pelean dohot
    Ende Pelean.
BE No.204 : 2
·    Doa Penutup / Doa Bapa Kami /
Doa Berkat.
Pulanglah dengan sejahtera
Dan terimalah Berkat Tuhan:
 dan terimalah Berkat Tuhan:
“Tuhan memberkati engkau
dan melindungi engkau/kita,
Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya
 dan memberi engkau/kita Kasih Karunia,
Tuhan menghadapkan wajahNya kepada mu/kita
dan memberi engkau/kita damai sejahtera.”
Amin, Amin, Amin.
·   Tangiang Panutup / Ale Amanami /
Pasu-pasu.
Mulak ma ho/hamu dibagasan dame:
“Dipasu-pasu jala diramoti
Tuhan Debata ma ho/hita,
Disondangkon Tuhan Debata
ma bohiNa tu ho/hita,
 jala asi ma horaNa mida ho/hita *) !
Didompakkon Tuhan Debata
ma bohiNa tu ho/hita,
 jala dipasaorhon ma dameNa
 tu tondim/tondinta be.”
Amin, Amin, Amin.










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebelum kekristenan memasuki tanah Batak sesungguhnya orang Batak sudah mempercayai bahwa ada satu kekuatan yang berada di luar diri mereka sendiri yang diyakini dapat memberi berkat. Kepercayaan dan keyakinan ini mendorong mereka membuat upacara-upacara sebagai bentuk penghormatan dan ketundukan kepada kekuatan yang berada di luar diri mereka. Berbagai bentuk upacara yang mereka lakukan sesuai dengan peristiwa yang dialami dan di setiap upacara pemberian persembahan dalam bentuk korban hewan peliharaan dan hasil panen selalu dilaksanakan. Bentuk upacara yang dilaksanakan tidak selalu sama, namun disusun sedemikian rupa sesuai dengan peristiwa yang dialami dengan maksud supaya kehidupan terberkati. Dengan demikian praktek pemujaan orang Batak pada awalnya berorientasi kepada kepentingan mereka sendiri yaitu supaya roh nenek moyang tidak mengganggu kehidupan dan berkenan memberkati hasil pekerjaan pertanian mereka.
Setelah kekristenan praktek upacara- upacara ini tetap dilakukan dengan mengambil unsur-unsur positif dari budaya dan mengarahkan bentuk-bentuk upacara kepada penyembahan Allah. Unsur budaya tidak semuanya ditolak atau dibuang tetapi dalam missi kekristenan unsur-unsur budaya tertentu justru dipergunakan dalam upacara-upacara kekristenan.
Seiring dengan dimulainya penginjilan ke tanah Batak praktek peribadahan tetap mengalami perkembangan. Praktek peribadahan HKBP pada awalnya dibawa oleh RMG yang bercorak “uniert” tetapi di dalam perkembangan selanjutnya bahwa di dalam tubuh HKBP mengalir dasar-dasar teologi yang diperoleh dari Gereja muda yang digunakan dalam Katolik Roma, nyanyian-nyanyian mazmur yang biasa digunakan Gereja Calvinis dan nyanyian yang berjiwa pietis. Sedangkan yang berasal dari Gereja “uniert” adalah nyanyian-nyanyian (lagu-lagu koor), pemahaman dan pelaksanaan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Pengaruh Calvinisme dalam praktek peribadahan HKBP dapat juga dilihat dari adanya penggunaan nyanyian-nyanyian Mazmur dan pencatuman pembacaan Hukum Taurat dalam tata ibadah Minggu.
Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa HKBP dalam praktek peribadahannya dipengaruhi oleh pengalaman budaya yang disebut sebagai preparation evanggelica, hasil missi RMG yang di dalamnya terdapat teologi-teologi Gereja muda dan pengaruh Calvinis. HKBP tidak sepenuhnya bercorak Lutheran, hanya saja lebih didominasi oleh corak ajaran dan ibadah Lutheran. Demikian juga unsur-unsur tata ibadah yang dilakukan di HKBP tetap mengalami perkembangan dan bersifat dinamis.
Refleksi Teologis
Berdasarkan pembahasan pengertian liturgi dan sejarah asal usul serta perkembangan awal liturgi, latar belakang peribadahan di HKBP, pemahaman unsur-unsur liturgi HKBP, pembaruan liturgi protestan, kontekstualisasi liturgi, serta hasil analisa praktek peribadahan dan upaya kontekstualisasi liturgi di HKBP, maka ada beberapa kesimpulan sebagai refleksi teologis yang perlu disampaikan:
1.      Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Roma tentang bagaimana mereka harus mewujudkan ibadah yang sejati atau yang benar. Pertama, adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah. Allah adalah subyek ibadah dan kepada-Nyalah ibadah ditujukan. Konsentrasi ibadah yang dilakukan manusia semuanya berpusat kepada Allah. Obyek peribadahan adalah diri pribadi secara paripurna atau seluruh eksistensi manusia. Kedua, jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu. Untuk peribadahan yang benar kepada Allah, diri pribadi harus berubah. Introspeksi dan perubahan merupakan bagian dari kondisi yang patut dikerjakan dalam rangka melaksanakan peribadahan yang benar, yaitu kondisi tidak serupa dengan dunia ini. Kehidupan yang sama dengan dunia dalam hal moral, tingkah laku, sikap hidup dan semacamnya, harus diubah dan disesuaikan kepada kehendak Allah.
2.      Dalam rangka melaksanakan peribadahan disusunlah tata cara ibadah atau liturgi. Dengan menyusun liturgi dimaksud, akan berwujud peribadahan yang benar di mana persembahan diri dan kondisi tidak serupa dengan dunia terpenuhi. Kata liturgi yang pada awalnya adalah istilah umum yang berlaku di masyarakat Romawi yaitu leitourgia memiliki arti pelayan bangsa, pelayanan masyarakat, kemudian penggunaannya diperluas dalam pelayanan-pelayanan kultis. Sebagaimana pemahaman Paulus, liturgi tidak saja terbatas pada tata ibadah atau perayaan gereja, tetapi menyangkut sikap beriman sehari-hari. Dengan demikian liturgi adalah kreasi teologis yang sekaligus teoritis dan praktis, artinya jika liturgi hanya berupa teori, maka ia tinggal sebagai dogma, padahal liturgi merupakan juga kegiatan praktis gereja. Gereja adalah tubuh Kristus yang menjadi nyata melalui sikap hidup anggotanya yang telah diperbarui. Oleh karena itu liturgi dipahami sebagai perayaan teologi atau teologi yang dirayakan.
Di dalam kehidupan gereja, liturgi sejajar dengan ibadah dan kebaktian, sekalipun di dalam penggunaannya istilah-istilah ini sering dirancukan, misalnya dalam penulisan buku acara sering dituliskan “ acara liturgi ibadah atau liturgi kebaktian, acara ibadah kebaktian”. Sudah saatnya gereja menghentikan kerancuan ini dan kembali kepada pemahaman yang sesungguhnya. “Bakti” adalah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, perbuatan baik, memperhambakan diri kepada yang diagungkan atau dihormati. Dengan demikian istilah liturgi mengandung pengertian dari dua aspek, vertikal dan horizontal yang secara inherent menyatu di dalamnya.
Aspek vertikal dan horizontal dalam ibadah Perjanjian Lama senantiasa ditekankan oleh Allah. Bangsa Israel harus melaksanakan ibadahnya dengan benar dan ibadah yang benar adalah menyembah Allah dan melaksanakan kegiatan yang menolong sesama manusia (Yes. 1:11-17). Sesempurna apapun ibadah yang dilakukan kepada Tuhan, namun lalai memperhatikan ketimpangan dalam masyarakat, dan melakukan ketidakadilan bagi yang lemah, yang miskin, serta mengabaikan hak janda-janda dan yatim piatu, tidak peduli terhadap keterbelakangan, kebodohan, kerusakan lingkungan yang mengakibatkan penderitaan umat manusia, maka ibadah berada dalam sasaran kritik Nabi Yesaya.
 3.   Pemahaman tentang pola peribadahan harus memiliki unsur tetap, tetapi juga kontekstual dan praktis reflektif. Unsur tetap artinya pola peribadahan itu harus vertikal dan horizontal. Kontekstual dan praktis artinya unsur di mana kita berada sebagai bagian dari masyarakat yang berbudaya, merupakan bagian hidup penyembahan kita. Peribadahan harus menyentuh konteks di mana kita hidup dengan merefleksikan kenyataan yang menjadi pergumulan masyarakat pada saat ini. Dengan demikian pola peribadahan yang tercermin dalam liturgi merupakan refleksi iman orang Kristen terhadap kenyataan yang kongkrit tanpa mengesampingkan unsur-unsur budaya yang dimiliki oleh setiap orang yang beribadah.
4.   Sebagaimana visi dan misi Gereja HKBP yang tertuang dalam buku Aturan dan Peraturan HKBP 2002. Visi: “HKBP berkembang menjadi Gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka, serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat Kristen, demi kemuliaan Allah Bapa yang mahakuasa”. Misi: “HKBP berusaha meningkatkan mutu segenap warga masyarakat, terutama warga HKBP, melalui pelayanan-pelayanan Gereja yang bermutu agar mampu melaksanakan amanat Tuhan Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan abad ke-21”.
Melalui visi dan misi ini HKBP termasuk liturginya tidak statis tetapi selalu dinamis mengikuti perkembangan sesuai dengan konteks dan terbuka mengkaji setiap teologi yang berkembang. HKBP bukan Gereja yang langsung turun dari sorga. HKBP lahir dan terbentuk dalam proses sejarah, demikian pula liturginya. Melalui penelusuran sejarah dapat dicatat bahwa liturgi HKBP mengalami perkembangan dan pembaruan sesuai dengan konteks. Upaya kontekstualisasi liturgi mendapat perhatian dan penekanan Gereja HKBP sebagai “ecclesia reformata semper reformanda” di setiap tempat dan situasi.  
Saran
 Kontekstualisasi liturgi adalah proses yang terus berjalan sejak Gereja mula-mula beribadah, baik secara otomatis (alamiah) maupun sengaja dilakukan penyesuaian. Ada beberapa metode penyesuaian, semisal: adaptasi, inkulturasi, akulturasi, dan lain-lain, termasuk kontekstualisasi liturgi adalah keberanian untuk membuat pembaruan. Pembaruan bukan sebatas meniru liturgi lain, tetapi pembaruan dengan penelusuran historis dan konteks di mana Gereja berdiri. Dengan kontekstualisasi liturgi, maka liturgi tidak pernah seragam sejak zaman Gereja mula-mula.
            Ada beberapa saran yang realistis untuk upaya kontekstualisasi liturgi HKBP kini dan masa depan:
1.      Sudah saatnya HKBP memperbaiki cara beribadahnya. Bukan menukar atau mengganti cara beribadah, namun mengevaluasi diri sendiri dari akar tradisi yang dimilikinya.
2.      Sudah saatnya HKBP mengikutsertakan atau melibatkan warga jemaat untuk membahas pembaruan liturgi, dengan meninggalkan sikap monopoli pelayanan, serta bersikap terbuka menghadapi tantangan era baru.
3.      Melibatkan anggota jemaat dalam liturgi. Kunci dari ibadah yang hidup adalah terjadinya partisipasi yang penuh (participatory worship selama ibadah, di mana anggota jemaat benar-benar terlibat secara aktif, sadar, dan berbuah. Karena Gereja adalah Imamat Rajani, anggota jemaat harus diberi peran dalam ibadah, sesuai karunia masing-masing, semisal:
3.1. Paduan Suara (choristers)
Peran paduan suara yang utama bukanlah unjuk kebolehan, melainkan menolong jemaat bernyanyi. Jika paduan suara duduk di depan dan terlihat oleh jemaat, mereka dapat memberi contoh (teladan) bagaimana melakukan ritus-ritus ibadah dengan benar.  
3.2. Song Leader (Cantor)
Song Leader (Cantor) adalah pemimpin nyanyian. Ia dapat dipilih dari orang yang memiliki talenta musik sekaligus mampu mendidik. Selain memimpin jemaat bernyanyi dalam ibadah, cantor memperkenalkan lagu baru kepada jemaat dan mengoreksi kesalahan menyanyi.
3.3. Lektor
Sejak ibadah di sinagoge sudah ada ketentuan bahwa jika lebih dari 10 orang    anggota jemaat hadir, Kitab Taurat dibacakan oleh salah satu lelaki dewasa yang hadir (bnd Luk. 4:16-17). Tradisi pembacaan Alkitab oleh anggota jemaat diteruskan di gereja. Paulus menasihatkan jemaat untuk hadir dalam ibadah membawa “pengajaran” (1Kor. 14:26, kata aslinya “didache” yang berarti pengajaran Yesus atau Para Rasul yang tertulis dalam kitab-kitab, 1Tim. 4:13, Kol. 4:16). Kita dapat menunjuk anggota jemaat untuk membaca Alkitab. Memilih orang yang mampu membaca dengan hidup, tidak monoton, dan sesuai dengan karakter teks yang dibaca. Di sini diperlukan latihan dan pendampingan.
3.4. Koordinator
      Dalam ibadah, koordinator sangat dibutuhkan untuk memadukan pekerjaan    dari pelbagai pemimpin liturgi. Sama seperti manajer panggung (stage manager), tugasnya mengatur agar ibadah berjalan sesuai dengan rencana. Ia harus memastikan kesiapan instrument pendukung ibadah, bahwa para petugas telah hadir dan memahami bagiannya masing-masing, dan segala sesuatu berjalan lancar.
3.5. Mempersiapkan Sarana dan Prasarana Gereja
      Faktor  lain dalam upaya kontekstualisasi liturgi ini adalah persiapan sarana dan pra-sarana Gereja. Yang dimaksud sarana-prasarana di sini adalah: gedung, perlengkapan, peraturan gereja, maupun iklim jemaatnya dan sumber daya manusianya, menyangkut: pengkhotbah, liturgos, pemandu pujian, pemusik, paduan suara, tim penyambutan, petugas sound, dll. Semuanya dapat menolong jemaat beribadah lebih khusuk atau sebaliknya mengganggu jalannya ibadah.
              I.      Pengkhotbah yang dapat menyampaikan Firman Tuhan dengan komunikatif akan menolong jemaat bergumul dengan Firman. Sebaliknya, pengkhotbah yang tidak siap akan membuat jemaat jenuh dan malas mengikuti khotbah.
           II.      Pemusik dapat menolong jemaat mengekspresikan imannya dalam pujian, namun jika ia memainkan lagu dengan tempo yang keliru atau gaya yang tidak sesuai, ia bisa menghalangi jemaat menyanyi dengan sepenuh hati.
         III.      Petugas sound dapat menolong jemaat mendengarkan khotbah dengan jelas dan menciptakan keseimbangan yang harmonis antara suara musik dengan suara jemaat saat menyanyi. Sebaliknya, pengaturan yang keliru (munculnya feedback, microphone lupa dinyalakan, volume sound system memekakkan telinga) dapat merusak suasana ibadah.
        IV.      Ruang ibadah juga menentukan tingkat partisipasi jemaat. Ruangan yang akuistiknya buruk membuat jemaat malas bernyanyi karena suara mereka hilang tertelan. Ruangan ibadah dapat menciptakan suasana teduh dan reflektif, sebaliknya dapat juga membuat jemaat sukar berkonsentrasi.
            Memberdayakan semua unsur di dalam Gereja adalah misi yang harus dilakukan demi upaya kontekstualisasi  liturgi di HKBP.
4.      Sudah saatnya HKBP mengangkat komisi liturgi yang independen dan langgeng untuk menjadi fasilitator, penasihat, peneliti, pengembang, dan memperlengkapi jemaat untuk memahami unsur-unsur tata ibadah secara teologis, dan historis.
5.      Musik dan nyanyian merupakan ungkapan yang menyentuh hati manusia. Oleh sebab itu penggubahan musik dan nyanyian yang kontemporer dan mengandung unsur-unsur budaya diperlukan.
6.      Sebagian rumusan doa-doa yang terdapat di dalam buku Agenda perlu direvisi. Salah satu contoh dalam Agenda HKBP tercantum doa:[17]
Sai gomgomi jala parentai ma huriaM di tano Batak on, asa lam rarat jala monang huriaMi” (terj. sertai dan pimpinlah Gereja-Mu di tanah Batak ini, supaya berkemenangan dan berkembang”.

Rumusan ini dipahami dalam kerangka konteks historis yang tentu tidak relevan untuk HKBP yang ada di luar tanah Batak. Di samping itu rumusan-rumusan doa jangan hanya memakai rumusan-rumusan lama (tradisional), tetapi juga rumusan-rumusan baru yang lebih sesuai dengan situasi jemaat pada saat itu. Untuk membuat rumusan-rumusan baru ini, maka diberikan kebebasan kepada setiap Gereja untuk merumuskannya sesuai pergumulan atau situasi jemaat setempat.

DAFTAR PUSTAKA
Hastings James, Encyclopedia of Relegion and Ethics vol.29, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1955.
G Riemer, Cermin Injil, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995
Douglas J.D. (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid I, Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004
F. White James, Pengantar Ibadah Kristen, BPK-GM, Jakarta:2011
Martasudjita,E. Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi  (Yogyakarta: Kanisius 1999
Van Dop H.A., “Hakekat dan Makna Liturgi”, Liturgi dan Komunikasi; (Jakarta: Yakoma PGI,  2005), 104.
O.Carm Bosco Da Cunha, Teologi Liturgi dalam Hidup Gereja  (Madang: Dioma, 2004
G. Riemer, Cermin Injil  (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,  1995
Rachman; Pembaruan Ibadah : Pengantar Teologi Liturgi (
http://sofiswa.blogspot.com/2011/12/agama-kristen-protestan.html




[1] James Hastings, Encyclopedia of Relegion and Ethics vol.29, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1955), hlm.527.
[2] Riemer G, Cermin Injil, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995), hlm.52
[3] J.D. Douglas (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid I, (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), hlm.409.
[4] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, BPK-GM, Jakarta:2011, 22-23
[5] E.Martasudjita, Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi  (Yogyakarta: Kanisius 1999), 18.
[6] H.A.Van Dop, “Hakekat dan Makna Liturgi”, Liturgi dan Komunikasi; (Jakarta: Yakoma PGI,  2005), 104. Pengertian liturgi secara kultis terutama digunakan oleh kelompok LXX ketika menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani pada abad ke-2 hingga ke-3 sebelum masehi. Dalam terjemahan Septuaginta itu kata leitourgia digunakan untuk menunjukkan pelayanan ibadat para Imam atau kaum Lewi di hadapan Tuhan.
[7] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, BPK-GM, Jakarta:2011, 1-35.
[8] http://sofiswa.blogspot.com/2011/12/agama-kristen-protestan.html
[9] Bosco Da Cunha,O.Carm, Teologi Liturgi dalam Hidup Gereja  (Madang: Dioma, 2004)  16.
[10] Bosco Da Cunha,O.Carm, ...............hlm 17.
[11] E. Martasudjita, Op.cit., 19
[12] G. Riemer, Cermin Injil  (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,  1995),  11.
[13] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, terj. (Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2002),  15-16.
[14] Menghilangnya istilah “liturgi” dari kamus Gereja Barat berkaitan dengan penerjemahan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin (Vulgata) yang dilakukan oleh Hironimus (347-420). Dalam Vulgata kata “liturgi” umumnya diterjemahkan dengan kata minister atau officium (misalnya Luk.1:23, 2Kor 9: 12). Sebagai ganti istilah liturgi dalam kamus peribadahan digunakan bebagai istilah lain: Officia divina yaitu titel dari kebanyakan karya/ buku tentang liturgi. Kini biasanya dipakai hanya untuk liturgi harian. Ritus atau ibadat yaitu titel buku yang amat disukai dari abad ke-16 hingga ke-20 (misalnya: Rituale Romanum, Kongregasi Ibadat). Istilah ini biasanya diartikan sebagai sisi luar dari liturgi, yakni dari aspek manusia yang beribadah kepada Allah. Caeremoniae atau upacara, yaitu titel dari beberapa buku liturgi dari abad ke-16 dan 17 dan hanya  kadang-kadang digunakan dalam dokumen Vatikan II (misalnya: Kanon 788,1).
[15] Rasid Rachman; Pembaruan Ibadah : Pengantar Teologi Liturgi (Bahan Perkuliahan Intensif  Mahasiswa D.Min, STT Jakarta, 19-20 Oktober 2005),  5-6.
[16] Rasid Rachman;....................hlm 7.
[17] Agenda HKBP,  96. Bagian doa kenaikan Tuhan Yesus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar