Mata
Kuliah : Liturgika
Dosen
Pengampu : Sanip Surbakti, M.Th
Tugas : Makalah (Liturgy
Ibadah Protestan: HKBP)
Nama : Boy Rio Sinaga
Semester : VIII (Delapan)
BAB I
PENDAHULUAN
Gereja memiliki peran yang amat menentukan perwujudan narasi
injil Yesus Kristus kepada semua orang, – secara khusus kepada warga
jemaat dalam berbagai kesempatan peribadatan yag dikembangkan – agar
diselamatkan dalam kehidupan yang kekal. Pemberitaan injil yang objektif bukan
hanya melalui pengabdian diri kepada badan injil atau misi atau pun lembaga
tertentu kemudian ditempatkan di daerah untuk menginjili, tetapi bisa dalam
bentuk yang sederhana seperti pemantapan pola ibadah formal yang dikembangkan,
seperti liturgi yang digunakan dalam setiap ibadah agar lebih up to date,
kreatif, inovatif serta memberi warna baru yang mengesankan,
namun tetap pada koridor semata-mata untuk memuliakan Tuhan.
Dewasa ini, tidak sulit untuk menemukan bentuk liturgi; baik ibadah minggu di
gereja maupun ibadah-ibadah kategorial yang sifatnya monoton dan membosankan
warga jemaat yang dilayani. Liturgi demikian membuat jemaat menjadi kurang
bergairah dalam mengikuti ibadah di tambah lagi dengan kerap kalinya petugas
ibadah mekukan kesalahan dalam ibadah, sehingga potensi-potensi “peralihan”
warga jemaat ke gereja lain menjadi taerbuka lebar. Fakta ini tentu miris dan
memprihatinkan untuk didengar, sebab yang dituju pada saat ibadah bukan “relasi
vertikal”, manusia dan sesamanya (petugas ibadah dan warga jemaat) tetapi sosok
ilahi yang berkuasa dan Maha Kuasa atas hidup dan kehidupan umat manusia
“relasi horizontal”, karena itu Dia layak diberi puji dan sembah dengan sajian
pujian dan liturgi yang baik dan sempurna. Meskipun demikian, yang menjadi
proritas tentu saja bukan pada mantapnya liturgi yang dikembangkan tetapi
kesungguhan dan keseriusan dalam keseluruhan ibadat yang dikembangkan bersama,
sehingga sungguh-sungguh berkenan dan memuliakan Tuhgan.
Ke-otentikkan sajian pujian kepada Tuhan bukan diukur dari jenis musik yang
digunakan dalam mengiringi ibadat, sebab semua jenis musik – seharusnya –
memang diciptakan untuk kepujian dan kemuliaan bagi nama Tuhan saja (bdk.
Mazmur 33 : 2 - 3). Karena itu, tidak ada pembatasan terhadap penggunaaan
instrumen musik untuk mengiringi ibadat, asalkan digunakan dengan baik, tertata
rapi dan indah didengar serta membantu jemaat untuk makin menumbuh-kembangkan
iman kepercayaan kepada sang pencipta. Musik yang dimainkan memiliki aspek
“rubah” dan mempengaruhi seseorang pada sisi psokologisnya. Karena itu, musik
apapun yang digunakan dalam mengiringi ibadat di gereja diharapkan memainkan
peran itu, namun tetap menyatu dengan liturgi yang disajikan agar tujuan
liturgi tercapai, yaitu memuliakan Allah dengan hati yang sungguh.
BAB II
STUDY LITURGI IBADAH MINGGU
PROTESTAN: HKBP
TERMINOLOGI
Ibadah dalam konsep Perjanjian Lama maupun Perjanjian
Baru mempunyai arti pelayanan. Dalam istilah Ibrani disebut avoda
sedangkan dalam bahasa Yunani disebut latreia. Istilah avoda merujuk kepada
ibadah di kuil dan khusus lebih mengarah dalam hal berdoa.[1] Abineno
menunjukkan bahwa kata ‘ibadah’ yang biasanya digunakan dalam PB terjemahan
dari istilah Yunani adalah:[2]
- leiturgia (λειτουργια) Kis.13:2, beribadah kepada Allah
- latreia (λατρεια) Roma 12:1, mempersembahkan seluruh tubuh
- thereskeia (θρησκεια) Yak.1:27, pelayanan kepada orang yang dalam kesusahan.
Jadi ibadah adalah avoda atau latreia yang
sebenarnya yang merupakan suatu pelayanan yang dipersembahkan/ketaatan kepada
Allah, tidak hanya dalam arti ibadah di Bait Suci (berdoa), tetapi juga dalam
arti pelayanan kepada sesama (Luk.10:25; Mat.5:23, Yoh.4:20-24, Yak.1:27).[3] Namun leitourgia juga
digunakan untuk menunjuk pelayan rumah tangga dan pegawai pemerintah semisal
menarik pajak.[4]
Secara harfiah, leitourgia berarti kerja atau pelayanan yang
dibaktikan bagi kepentingan bangsa. Menurut asal-usulnya, istilah leitourgia
memiliki arti profan-politis, dan bukan arti kultis sebagaimana biasa dipahami.
Baru sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia
diperluas,yakni untuk menyebut berbagai macam karya pelayanan.[5]
Baru sejak abad kedua sebelum masehi para penerjemah Alkitab dari bahasa Ibrani
ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) memilih kata Yunani leitourgia
untuk menerjemah kata Ibrani abodah yang berarti “pelayanan” khususnya
pelayanan para Imam dan orang-orang Lewi di hadapan Tuhan.[6]
ARTI IBADAH KRISTEN[7]
Ibadah
adalah bentuk ekspresi berupa tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dalam
konteks Kristen maka diperlukan definisi yang jelas mengenai bagaimana bentuk
Ibadah Kristen ? Salah satu cara untuk mendefinisikan Ibadah Kristen yaitu
dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, metode ini dengan jelas akan
menjelaskan apa yang biasanya akan dilakukan orang Kristen dalam beribadah.
Selain itu pendekatan yang lain yaitu mencari definisi dari para teolog kristen
tentang apa itu Ibadah Kristen. Sedangkan yang terakhir dapat dilakukan dengan
memeriksa beberapa kata kunci yang sering muncul pada saat beribadah.
Fenomena
Ibadah Kristen
Metode
atau pendekatan fenomenologis ini membuka peluang bagi orang luar maupun dalam
untuk dapat meneliti bentuk-bentuk ibadah Kristen yang sering dilakukan dengan
salah satunya memperhatikan struktur-struktur ibadah yang sudah tersusun.
Ibadah Kristen adalah bentuk kegiatan yang terstruktur dan berlandaskan pada
pengaturan waktu, selain itu juga ada perhatian mengenai ruangan dan
perlengkapan pendukung kegiatan ibadah.
Definisi-definisi
ibadah Kristen
Cara
terbaik untuk menangkap arti dari setiap istilah adalah dengan mengamati
penggunaannya dari pada langsung memberikan definisi secara sederhana. Salah
satu contoh adalah pengamatan dari Prof.Paul W.Hoon seorang Metodis yang
menulis dalam bukunya The Integrity of Worship bahwa Ibadah harus
dilihat secara fundamental Kristologis, ibadah Kristen terkait secara langsung
pada sejarah penyelamatan, kehidupan ibadah adalah kehidupan liturgis. Menurut
Hoon ibadah Kristen adalah penyataan diri Allah sendiri dalam Yesus Kristus dan
tanggapan manusia terhadap-Nya. Kata kuncinya adalah “penyataan” dan
“tanggapan”.
Justin Martyr menggambarkan liturgi
(tata cara urutan ibadah) Kristen di First Apology kepada Penguasa Antoninus
Pius pada abad ke-2, dan penggambarannya masih relevan untuk menggambarkan
struktur dasar dari liturgi ibadah Kristen. Justin menggambarkan, orang Kristen
berkumpul untuk ibadah bersama pada hari Minggu, yaitu hari Yesus bangkit dari
kubur. Pembacaan Firman Tuhan diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,
tapi terutama dari Injil. Pada akhir dari liturgi ibadah, diadakan Perjamuan
Kudus, untuk memperingati pengorbananYesus.[8]
Peter
Brunner seorang Lutheran dalam bukunya Worship in the name of Jesus
dengan kata Gottesdienst atau ibadah memiliki pengertian pelayanan
Allah kepada manusia dan sebaliknya pelayanan manusia kepada Allah. Luther
menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di dalamnya kecuali bahwa
Tuhan kita yang pengasih itu senditi berbicara kepada kita melalui firman-Nya
yang kudus dan bahwa kita pada gilirannya berbicara kepadanya dalam bentuk doa
dan nyanyian.
Sedangkan
menurut Prof. Jean-Jacques von Allemen yang adalah seorang Reformed dalam
bukunya Worship: Its theology anda practice menjelaskan bahwa ibadah
Kristen adalah sebuah rekapitulasi (atau pengulangan dari apa yang telah dibuat
Allah). Ibadah adalah pemulihan dan penegasan secara baru proses sejarah
penyelamatan yang telah mencapai titik puncaknya dalam intervensi Kristus
kedalam sejarah menusia dan melalui peringkasan serta penegasan yang selalu
diulang ini Kristus melanjutkan karya penyelamatan-Nya melalui karya Roh Kudus.
Ibadah adalah epifani (penampakan diri) gereja yang karena menyimpulkan sejarah
keselamatan memapukan gereja untuk menjadi dirinya sendiri untuk menjadi sadar
akan dirinya sendiri dan untuk mengakui apa yang sebenarnya esensial. Ibadah
juga adalah bentuk ancaman penghakiman dan pengharapan kepada dunia. Tiga
kata kunci untuk pemahaman von Allmen adalah rekapitulasi, epifani dan
penghakiman.
Dari
tradisi Anglo-Katolik Evelyn Underhill dalam bukunya Worship
mengekspresikan sejumlah konsep tentang ibadah adalah tanggapan ciptaan kepada
Yang Abadi. Upacara merupakan ekspresi emosi keagamaan, Ibadah Kristen adalah
tindakan supranatural yang melibatkan tanggapan khas terhadap pernyataan yang
khas.
Dari
pandangan Ortodoks Prof.George Florovsky menjelaskan bahwa Ibadah Kristen
adalah jawaban manusia terhadap panggilan ilahi dari tindakan Allah yang penuh
kuasa dan berpuncak melalui tindakan pendamaian dari Kristus. Menjadi orang
Kristen dan menjalankan ibadah adalah dengan melakukan persekutuan, berada
dalam suatu komunitas di dalam Gereja.
Teolog
Ortodoks lainnya yakni Nikos A.Nissiotis menekankan kehadiran dan tindakan
Allah Trinitas dalam ibadah. Ibadah adalah inisiatif pendamaian Allah dalam
Kristus melalui Roh-Nya Oleh kekuatan Roh Kudus gereja dapat menawarkan ibadah
yang memberi sukacita sebagai tindakan dari Allah Trinitas maupun ditujukan
kepada Allah Trinitas
Dalam
Roma Katolok ada konsep pemuliaan Allah dan pengudusan manusia konsep ibadah
seperti ini memberikan gambaran bahwa Ibadah untuk adalah bentuk memuliakan
Allah yang dilakukan oleh orang-orang kudus. Kedua konsep ini berjalan
bersamaan dimana kemuliaan Allah dinyatakan ketika manusia memelihara kekudusan
hidup, tidak ada suatupun yang mungkin membuat seseorang menjadi kudus selain
dari keinginan untuk memuliakan Allah.
Bahasa
yang digunakan orang-orang Kristen tentang ibadah
Ada
beberapa kata kunci yang telah dipilih oleh komunitas Kristen yang dipakai
ketika berbicara tentang ibadah. Terkadang kata tersebut bermakna sekuler
tetapi kata ini dipakai sebagai ekspresi untuk ibadah. Beberapa kata yang perlu
kita pahami adalah sebagai berikut:
- Gottesdienst: Pelayanan Allah dan pelayanan kita kepada Allah. Kata dienst tidak memiliki akar kata dalam bahasa Inggris, kata ini mengarah kepada bengkel-bengkel dan pompa bensin di Jerman, kata yang paling memadai adalah service atau pelayanan. Pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan demi orang lain, untuk kepuasan orang lain. Gottesdienst merefleksikan suatu Allah yang telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba (Flp.2:7) dan pelayanan kita kepada Allah.
- Liturgy berasal dari bahasa Yunani leitourgia yang terdiri dari kata bekerja (ergon) dan umat atau rakyat (laos). Pekerjaan yang dilakukan rakyat demi kepentingan kota atau negara.
- Cult dalam bahasa Inggris lebih menyatakan hal yang aneh (tidak biasa) tetapi memiliki fungsi yang luhur dari bahasa Prancis le culte, Italia il culto dan Latin colere adalah istilah agraris yang berarti menanam. Kata-kata ini memiliki istilah yang kaya jauh lebih kaya dari kata worship karena kata ini menunjukkan rasa bertanggung jawab baik sang petani maupun tanahnya atau ternaknya. Kalau petani tidak memberi makan ayam maka tidak akan ada telur, jika tidak menyiangi maka tidak akan ada hasil sayur mayur. Jadi ada hubungan timbal balik.
- Proskunein, yang memberikan konotasi fisik eksplisit yaitu merebahkan diri untuk menyembah dan bersujud (Why.5:14). Ini adalah penggambaran posisi tubuh yang nyata dari ibadah yang digambarkan lewat kata kerja.
- Thusia dan prosphora, Thusia memberikan gambaran tentang persembahan yang hidup (Rm.12:1), Prosphora adalah tindakan mempersembahkan korban.
- Threskeia, yang berarti pelayanan keagamaan atau ibadah (Kis.26:5, Kol.2;18 dan Yak.1:26)
- Sebein, orang-orang yang takut akan Allah yang beribadah (Kis.12:50, 16:14)
- Homologein, mempunyai sejumlah arti sebagai pengakuan dosa (1 Yoh.1:9)
Istilah Liturgi dalam Perjanjian Lama
Dalam
Perjanjian Lama berbahasa Yunani kata liturgi dijumpai sebanyak 170 kali dari
kata abodah.[9]
Kata ini mengandung dua pengertian dengan memakai istilah sher`et
yang menekankan ungkapan perasaan dalam pengabdian diri serta kesetiaan
kepada majikan dan abh`ad lebih menekankan ketaatan kerja seorang
hamba (budak, abdi) kepada tuannya. Kedua istilah ini juga dipakai dalam
pengertian profan tetapi dalam pengertian religius selalu dimaksudkan dengan
ibadah yang diarahkan kepada Allah oleh para imam Lewi di Bait Suci.
Istilah
sher`et dan abh`ad tidak dimaksudkan untuk ibadah umum oleh
seluruh umat tetapi secara khusus yang dilaksanakan oleh suku Lewi kepada Allah
untuk kepentingan seluruh umat Israel (Bil.16: 9). Istilah yang digunakan untuk
menggambarkan ibadah yang dilakukan oleh seluruh umat Israel ialah kata latreia
dan douleia terpisah dan berbeda dari peribadahan suku Lewi yang
dipandang lebih tinggi dan terhormat dengan corak perayaan yang khusus.[10] Dalam
Perjanjian Lama terjemahan Septuaginta istilah leitourgia digunakan
untuk pelayanan ibadah para imam kaum Lewi. Sedangkan tindakan kultis umat
biasanya diungkapkan dengan istilah latreia (penyembahan).
Istilah Liturgi dalam Perjanjian Baru
Kata
leitourgia dan leitourgein mengalami perkembangan dalam
Perjanjian Baru. Dalam Luk.1: 23, leitourgia masih memiliki makna
yang sama dengan penggunaannya dalam LXX (Septuaginta) yaitu pelayanan imam.
Dibandingkan dengan tulisan Perjanjian Baru yang lain, surat Ibrani merupakan
kitab yang sering menggunakan kata leitourgia dan leitourgein (Ibr.8:
6, 9: 21, 10: 11) dengan konteks yang sama sekali baru. Penulis Ibrani
menggunakan kata leitourgia untuk menjelaskan makna imamat Yesus Kristus
sebagai satu-satunya Imamat Perjanjian Baru.[11]
Imamat Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna
dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama.
Pada
tulisan Perjanjian Baru yang lain, penggunaan kata leitougia atau leitourgein
memiliki makna yang berbeda-beda. Kis.13: 2 merupakan satu-satunya teks
yang menggunakan kata liturgi menunjuk ibadah. Dalam Rm.15: 16 Paulus disebut
pelayan (leitourgos) Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil. Dalam
2Kor.9, 12 dan Rm.15: 27 kata “liturgi” berarti sumbangan yang merupakan
tindakan amal kasih bagi saudara-saudara seiman di tempat lain. Dalam teks-teks
seperti Flp.2: 25, 30, Rm.13: 6, Ibr.1: 7, kata liturgi memiliki arti melayani
dalam arti yang biasa.
Selanjutnya
G.Riemer[12] mengungkapkan
bahwa istilah leitourgia dalam Perjanjian Baru terdapat 15 kali dengan
makna yang berbeda-beda. Luk.1: 23, Ibrani 9: 21, Ibr.10: 11 merujuk kepada
tugas imam. Ibr.8: 2, Ibr.8: 6 menguraikan pelayanan Kristus sebagai imam. Rm.15:
16 merujuk kepada pekerjaan rasul dalam pekabaran Injil kepada orang kafir. Flp.2: 17
sebagai kiasan untuk hal percaya. Ibr.1: 7, 14 merujuk kepada pekerjaan
malaikat-malaikat melayani. Rm.13: 6 mengacu kepada jabatan pemerintah. Rm.15:
27, Flp.2: 25, Flp.2: 30, Flp.4: 18 merujuk kepada pengumpulan persembahan
untuk orang miskin. Kis.13: 2 mengacu kepada kumpulan orang yang berdoa dan
berpuasa.
Perjanjian
Baru menggunakan pelbagai istilah untuk ibadah. Kata latreia yang
diterjemahkan sebagai pelayanan atau ibadah. Kata ini digunakan untuk
menyatakan kewajiban menerapkan hidup beribadah bagi umat (Flp.3: 3). Kata proskunein
yang diterjemahkan untuk merebahkan diri, menyembah atau bersujud (Mat.4: 10;
Luk.4: 8). Kata thusia yang diterjemahkan sebagai persembahan kurban
dalam bentuk perayaan yang ditunjukkan melalui perbuatan (1Kor.10: 20, Ibr.13:
15). Kata prosphora sama dengan kata thusia menyatakan tindakan
mempersembahkan kurban yang ditujukan kepada Kristus (Ibr.10: 10). Kata threskeia
yang diterjemahkan sebagai pelayanan keagamaan atau ibadah (Kis.26: 5,
Kol.2: 18). Kata sebein diterjemahkan untuk menunjuk ke ibadah (Mat.15:
9, Mrk.7: 7). Kata homologein mempunyai sejumlah arti seperti pengakuan
dosa (1Yoh.1: 9), mengaku dengan mulut atau ucapan bibir (Rm.10: 9, Ibr.13:
15).[13]
Istilah
Liturgi dalam Sejarah Gereja Selanjutnya
Dalam
masa pasca para rasul, kata liturgi sudah digunakan untuk menunjuk kegiatan ibadat
atau doa Kristiani. Klemen dalam suratnya (1Klemen 41: 1) menyebut istilah
liturgi untuk menunjuk pelayanan ibadat baik kepada Allah maupun kepada jemaat
yang dilakukan oleh uskup, imam, dan diakon. Akan tetapi, sejak abad-abad pertengahan, kata “liturgi”
hanya terbatas digunakan untuk menyebut perayaan Ekaristi saja. Pebatasan ini
terjadi di Gereja Timur dan Gereja Barat.
Penggunaan
kata “liturgi” bagi penyebutan Ekaristi hingga kini tetap dipertahankan di
Gereja Timur, sedangkan untuk perayaan-perayaan ibadat lainnya dipakai sebutan
doa atau tata perayaan (Yunani: taxis, Latin: ordo). Dalam Gereja
Barat, istilah “liturgi” lama menghilang,[14]
baru mulai abad ke-16 istilah “liturgi” kembali dikenal. Gereja-gereja
Reformasi menggunakan kata Liturgi mulai pada abad ke-17 dan 18 dengan arti
ibadat Gereja.
Kemudian Gereja Katolik Roma mulai
memakai kata sifat liturgicus untuk menunjuk hal-hal yang berkaitan
dengan ibadat. Kata benda liturgia baru digunakan dalam dokumen resmi
Gereja Katolik Roma pada abad ke-18. Akhirnya, Konsili Vatikan II membakukan
istilah “liturgi” untuk menyebut “peribadahan Gereja” dalam Konstitusi Liturgi
Sacrosanctum Concilium (SC).
Istilah Liturgi pada Masa Kini
Dewasa ini kata liturgi adalah sebutan yang khas untuk
perayaan ibadah Kristen. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, yakni ebdu
atau abdu (abdi = hamba). Kata ini sejajar dengan bahasa Ibrani,
yakni abodah (ebed = hamba). Artinya perbuatan untuk untuk
menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait seerat-eratnya dengan suatu
kegiatan manusia kepada Allah, yakni dengan pelayanan kepada Tuhan.[15]
Rasul Paulus dalam Rm.12: 1 menuliskan tentang “ibadah sejati” dalam kaitan
dengan persembahan hidup. Liturgi sebagaimana pemahaman Paulus adalah juga
sikap beriman sehari-hari tidak terbatas pada perayaan Gereja.
Selain liturgi, kata dalam bahasa Indonesia yang sejajar
ialah kebaktian. Bhakti (Sansekerta) ialah perbuatan yang menyatakan setia dan
hormat, sikap memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan baik
untuk seseorang, Negara, maupun untuk Tuhan yang dilakukan dengan sukarela.
Pada pihak lain kebaktian mempunyai makna luas, yakni sikap hidup sebagai
pelayan Tuhan menyangkut tabiat, perbuatan, karakter, atau pola pikir yang
ditujukan secara utuh dan nyata oleh orang percaya di dalam dunia.
Ketiga kata dalam bahasa Indonesia tersebut, yaitu:
liturgi, kebaktian dan ibadah, digunakan secara sama dan sejajar. Namun
sekalipun demikian dalam pemahaman sehari-hari ada perbedaannya. Kata liturgi
sering digunakan dalam kaitan dengan disiplin ilmu, teologi, atau cara
resmi dan agung sebagaimana dalam Gereja Roma Katolik. Di seminari ada mata
kuliah liturgi, tetapi tidak disebut mata kuliah kebaktian atau ibadah. Kata kebaktian
lebih sering digunakan untuk menunjuk perayaan peribadahan. Sementara kata ibadah
cenderung digunakan untuk perayaan agama apapun, bahkan agama-agama tradisi
dan agama suku. Lazimnya orang menyebut ibadah Yahudi atau ibadah di Masjid,
tetapi tidak kebaktian Yahudi atau liturgi di Masjid.[16]
KEBAKTIAN MINGGU HKBP
A.
SEJARAH SINGKAT PRAKTIK PERIBADAHAN HKBP
- SECARA HISTORIS BERASAL DARI TIGA JALUR:
- Hasil misi pekabaran injil RMG bercorak uniert (Lutheran, Roma Katolik, Calvinis)
- Pergumulan gereja HKBP sendiri (HKBP manjungjung baringinna, 12 juli 1940)
- Pengaruh budaya atau adat batak (preparatio evanggelica)
2. PRAKTIK PERIBADAHAN DARI
HASIL MISI:
- Roma Katolik: nyanyian berjiwa pietis
- Calvinis: nyanyian-nyanyian Mazmur, pembacaan Hukum Taurat
- Uniert: nyanyian koor (gregorian)
B.
PERKEMBANGAN PRAKTIK PERIBADAHAN HKBP
- Tahun 1903 agenda sudah disusun, namun pelaksanaannya tidak seragam di semua gereja
- Tahun 1904 agenda gereja batak yang ditulis jung dan steinsieck berasal dari prusia disusun 23 orang ahli teologi gereja lutheran dan reformiert (calvinis) ditetapkan dua liturgi untuk kebaktian:
1. Khusus pendeta:
pembacaan votum dan introitus, berita pengampunan dosa, dan berkat
2. Khusus guru
jemaat dan penatua: nyanyian, hukum taurat, dan epistel
- Tahun 1906 agenda cetakan ke-2 disusun oleh Johannes Warneck dan tidak ada pembedaan liturgi antara pendeta dan penatua, hanya formulasi doa berkat yang berbeda tahun 1906/1907 lahir tata gereja yang memuat pelaksanaan kebaktian minggu, pernikahan, penguburan, katekisasi sidi, pendidikan umum, dan kedua sakramen.
- Pada masa Nomensen tata ibadah tidak menjadi fokus perhatian, yang ditekankan adalah pengkristenan orang batak dengan cara: bernyanyi, berdoa dan pemberitaan firman Tuhan, membicarakan firman Tuhan selama mungkin, dan tanya jawab tentang alkitab.
- Rapat pendeta HKBP 1957 mendiskusikan liturgi 1861-1940 yang tidak seragam, karena agenda HKBP Mentawai pengakuan dosa lebih dulu dari pembacaan hukum taurat.
- Agenda tahun 1984 memuat 18 tata kebaktian untuk melaksanakan setiap jenis kebaktian dan ini telah diberlakukan sejak hkbp manjungjung baringinna 12 juli 1940
- Tahun 1988 muncul agenda na metmet yang memuat: pandidion na hinipu, pamasumasuon di huta, pananomon na mate
- Keputusan sinode agung ke-49 tahun 1988 kebaktian minggu secara resmi diselenggarakan dalam dua bahasa (Batak dan Indonesia)
- Tahun 1991 rapat pendeta HKBP di seminarium sipoholon dimuat keputusan memperhatikan keterlibatan jemaat dalam ibadah dalam hal pembacaan epistel secara responsorial
- Sinode godang HKBP tahun 1998 di pematang siantar, merekomendasikan komisi liturgi untuk terbuka menjawab tuntutan jemaat mengenai pembaruan liturgi. Dimungkinkannya gereja loka membuat liturgi alternatif, kontemporer secara kontekstual, tanpa menghilangkan unsur-unsur liturgi yang ada
- Aturan & peraturan HKBP 2002 pasal 23, kepada komisi liturgi dan ibadah diberi mandat: meneliti liturgi yang dibutuhkan jemaat sesuai perkembangan zaman; menyusun liturgi sesuai kegiatan yang belum diatur dalam agenda
Catatan:
- Agenda yang dipakai HKBP sekarang tidak jauh berbeda dari agenda tahun 1940
- HKBP membuka diri terhadap pembaruan tata ibadah
PEMAHAMAN UNSUR-UNSUR IBADAH HKBP
1.
NYANYIAN-NYANYIAN:
- Nyanyian pembuka sebelum votum: nyanyian pujian (pujipujian), dan nyanyian doa dan permohonan
- Nyanyian setelah votum: nyanyian kepercayaan (haporseaon)
- Nyanyian setelah pembacaan HT: nyanyian peneguhan, pengakuan dosa dan belas kasihan Kristus
- Nyanyian setelah pengakuan dosa: nyanyian pujian syukur karena Tuhan telah mengampuni dosa
- Nyanyian setelah pembacaan epistel: nyanyian sambutan akan firman Tuhan
- Nyanyian setelah pengakuan iman: nyanyian yang sesuai dengan isi khotbah
- Nyanyian setelah khotbah: nyanyian sesuai tema khotbah, pengaminan akan firman Tuhan, pengutusan
A.
NYANYIAN DALAM LITURGI:
- Fungsinya merangkai setiap unsur-unsur liturgi yang ada, sehingga membentuk satu perayaan liturgi
- Nyanyian adalah ekpresi hati umat mengungkapkan jati dirinya dalam pujian dan ucapan syukur
- Dimensi nyanyian dalam liturgi: aklamasi (jawaban iman), proklamasi (pemberitaan), dan credo (pengakuan)
- UPAYA PEMBARUAN DALAM NYANYIAN LITURGI
- Bersahutsahutan, misal: bila nyanyian tiga bait dinyanyian dgn cara bait satu semua jemaat, bait dua laki-laki, bait tiga perempuan.
- Melantunkan (pendarasan=ruminasi): semua jemaat bernyanyi secara bersamaanantifonal: bernyanyi bersahutan antara dua kelompok penyanyi. Lazimnya berbalasan antara kiri dan kanan, atau lelaki dan perempuan.
- Responsoria: nyanyian bersahutan antara satu dgn sekelompok orang (digunakan gereja sejak awal)
- Alternatim: bergilir antara dua atau beberapa kelompok untuk setiap bait. Mis: bait satu untuk paduan suara, bait dua untuk pemuda, dll.
- Gregorian: bernyanyi dlm bentuk koor
CARA INI DIPAKAI OLEH GEREJA MAIN STREAM DAN JUGA MARTIN
LUTHER DAN DIKATAKAN NYANYIAN JEMAAT HARUS DINYANYIKAN BERVARIASI
1.
VOTUM-INTROITUS-DOA
A. VOTUM = VOTE = PERNYATAAN
- Pernyataan kehadiran Allah dalam ibadah yang diungkapkan dalam doa bahwa segala sesuatu berlangsung di dalam nama Alllah Bapa, Anak dan Roh Kudus, (kol.3:17)
- Pernyataan bahwa umat yang hadir dalam ibadah adalah sebagai persekutuan orang percaya
- Gereja katolik biasa mengucapkan formula ini sambil membuat tanda salib
B. INTROITUS = INTRO
- Prosesi atau perarakan masuk (sebagaimana umat israel melakukan perarakan menuju tanah perjanjian)
- Dilakukan dari pintu utama menuju altar atau mimbar
- Abad 19 gereja lutheran melaksanakan introitus dengan cara bernyanyi gregorian (paduan suara) sebagai tanda masuk pelayanan disambut dengan gloria (haleluya)
- HKBP melaksanakannya melalui pembacaan alkitab yang dihubungkan dengan tahun gerejawi disambut dengan nyanyian haleluya. Bedanya gereja lutheran melaksanakannya sebelum votum – hkbp setelah votum. Gereja reformiert melaksanakannya sebelum votum.
C. DOA
- Pemilihan rumusan doa dihubungkan dengan nama Minggu dan tahun gereja
2.
PEMBACAAN HUKUM TAURAT
- Cermin bagi umat bagaiman bersikap dan berperilaku yang berporos dalam dua sumbu yaitu mengasihi tuhan dan sesama manusia
- Umat diingatkan akan tanggungjawab orang percaya dalam hidup seharihari secara vertikal dan horizontal
- Hukum taurat tidak boleh dibacakan tanpa inti hukum (mat. 22:37-40)
- Hkbp tidak selalu dari Hukum Taurat (kel. 20:1-17), namun diperbolehkan dari konfessi, siasat gereja, dan nas alkitab bernada imperatif. Sekalipun itu diperbolehkan perlu diperhatikan supaya pemilihan nas alkitab jangan terlalu panjang, sifatnya imperatif dan mengandung inti hukum
3.
PENGAKUAN DOSA DAN BERITA ANUGERAH
A. DOA PENGAKUAN DOSA
- Umat mengaku bahwa dirinya berdosa kepada Tuhan dan sesama (yes. 59:1-6), sehingga sangat penting permohonan pengampunan dosa dalam liturgi
- Umat tidak dapat terus berjalan tanpa dosannya diampuni oleh Tuhan, karena dosa itu pemisah hubungan antara Tuhan dan manusia. Supaya hubungan itu dipulihkan maka dari manusia perlu pengakuan bahwa dirinya berdosa.
B. BERITA ANUGERAH
(ABSOLUSI)
- Esensi adalah pemberitaan anugerah Allah di dalam Kristus yang telah mendamaikan dirinya dengan manusia, penguatan, penghiburan, sukacita, dan pengharapan bagi manusia (2tes, 2:15,17)
C.
PELAKSANAAN DI HKBP:
- Rumusan pengakuan dosa bersifat umum, masih mengikuti rumusan lama (tradisional)
- Guna menghindari rumusan ini menjadi kebiasaan, diperlukan membuat rumus-rumus baru yang disesuaikan dengan situasi jemaat, menyangkut isu yang berkembang, pekerjaan, keadilan, lingkungan, hak-hak manusia, dll.
- Setelah berita anugerah umat menyambutnya dengan gloria (kemuliaan bagi Allah…) amin.
- Pada awalnya gloria adalah nyanyian jemaat atas berita anugerah, bukan pembacaan yang dibacakan pemimpin liturgis
- Sebaiknya gloria ini dinyanyikan sebagai sambutan jemaat atas berita anugerah. Bila mungkin digubah dengan melodi batak
4.
PEMBACAAN EPISTEL
- Pembacaan diambil dari PL dan PB surat-surat Rasul, mengikuti tradisi gereja abad pertama.
- Pembacaan dikaitkan dengan nas khotbah
- Fungsi pembacaan ini adalah ajaran, penguatan, tuntunan hidup baru, pengharapan, dan penghiburan
5.
PENGAKUAN IMAN
- Substansi adalah umat mengaku keberadaan Allah, tindakan Allah, sumber dan akhir kehidupan, yang mengatur ciptaan dan memberi kehidupan manusia di akhirat.
- Fungsinya adalah menunjukkan identitas diri kepada dunia sebagai orang beriman
- Mengungkapkan bahwa melalui karya Allah manusia diselamatkan
- Mengungkapkan kesatuan orang percaya di dlm dunia
- HKBP mengikuti pola Luther, menempatkan pengakuan iman sebelum khotbah – calvinis setelah khotbah, kenapa? Luther melihat pi sebagai doa setelah epistel sebagai amanat hidup baru umat datang mengaku. Calvinis melihat pi sebagai jawaban terhadap khotbah.
- Pada masa reformasi PI digubah ke dalam prosa atau nyanyian, dan Luther sendiri menyuruh jemaat me nyanyikan PI (deutsce messe, 1525)
- Mungkinkan HKBP melakukan itu? Menyanyikan PI yang digubah dalam bhs Batak?
- Mungkinkah HKBP mengucapkan rumusan pengakuan iman Niceanum, Constantinopolitanum dan Athanasium, disamping PIR?
6.
DOA SYAFAAT
- Syafaat (Arab=syafaah, Ibrani=syofet, Inggris= intercession) artinya : perantara, berada antara pelayanan mimbar dan altar (antara pemberitaan firman dan persembahan atau misa). Luther melakukan seperti itu
- HKBP melakukan sesuka hati? Ada sebelum khotbah, setelah warta jemaat, ada yang sama sekali tidak melakukan. Dalam liturgi doa syafaat harus dilakukan
- Di agenda HKBP ada rumusan doa syafaat setelah doa persembahan. Inilah yang benar.
- Mungkinkah HKBP membuat rumusan baru doa syafaat menambah rumusan lama di agenda? Disesuaikan dengan pergumulan warga jemaat atau isu yang berkembang secara lokal, nasional, dan global.
7. DOA
EPIKLESE, PEMBACAAN ALKITAB, KHOTBAH
- Epiklese = doa permohonan akan pimpinan (penerangan) Roh Kudus, menuntun umat mendengar firman Allah
- Rumusan doa epiklese tidak panjang, namun pendek, tegas, dan agung
- HKBP tidak konsisten? Bila pendeta: memakai rumusan berkat, damai sejahtera Allah…, bukan doa epiklese; bila non pendeta: mengucapkan doa, namun panjang.
- Sebaiknya HKBP bagaimana? Mengucapkan doa epiklese sebelum pembacaan alkitab dan khotbah, rumusannya tidak terlalu panjang, namun pendek, tegas dan agung
8.
DOA PENUTUP
A. DOA
PERSEMBAHAN
Mendoakan
persembahan yang telah terkumpul sebagai pemberian Allah sekaligus ucapan
syukur jemaat kepada Allah. Juga di dalamnya terkandung persembahan hidup
warga jemaat
B. DOA
BAPA KAMI
Mengikuti rumusan doa yang diajarkan
Yesus Kristus kepada para murid (Mat. 6:9-13)
C.
BERKAT
Mengikuti
rumusan doa berkat yang ada di dalam kitab Bilangan 6:22-27. Maknanya adalah
jaminan bahwa Tuhan yang melindungi dan memberkati umat miliknya, dan jemaat
menyambutnya dengan amin.
TRILOGI TATA IBADAH
A.
TATA IBADAH:
- Tata = kaidah, sistem, prinsip, norma supaya ada keteraturan (”…harus berlangsung dengan sopan dan teratur, 1kor. 14:40)
- Tata ibadah disusun supaya teratur dan berlangsung dengan sopan
B.
PRINSIP MEMBANGUN TATA IBADAH:
- Keutuhan (saling menyambung dengan unsur-unsur lainnya)
- Timbal balik (pernyataan dan respon, berbicara dan menjawab)
- Seimbang (nyanyian, doa, khotbah)
KONSEPSI RANGKAIAN UNSUR IBADAH HKBP
- Nyanyian pujian sebagai tanda kesiapan jemaat memulai ibadah. Dilanjutkan dengan…
- Votum sebagai pernyataan atau proklamasi bahwa ibadah dilangsungkan di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Allah sendiri yang mengumpulkan jemaat dalam ibadah, dan jemaat menyambutnya dengan gloria kecil sebagai pujian atas kemurahan Allah yang telah memanggil dan mengumpulkan jemaat. Doa dilantunkan sebagai tanda penyerahan kepada Allah. Dilanjutkan dengan..
- Nyanyian pujian di mana jemaat diingatkan akan berkat Tuhan yang selalu nyata dalam hidup. Dilanjutkan dengan…
- Pembacaan hukum taurat sebagai cermin bagi jemaat, evaluasi diri, sekaligus melihat apa yang Tuhan kehendaki di dalam kehidupan setiap hari. Dilanjutkan dengan…
- Nyanyian pujian memohon kemurahan Allah atas dirinya yang gagal melakukan kehendak Allah. Dilanjutkan dengan…
- Pengakuan dosa: setelah jemaat bercermin kepada hukum taurat, maka jemaat menyadari dosa-dosanya. Jemaat hanya dapat beribadah atas dasar pengakuan dan penyesalan, dan jemaat sadar bahwa hanya Allah sendiri yang dapat mengampuni dosanya. Kemudian atas penyesalan maka Allah memberi jaminan pengampunan, dan merangkul umatnya di dalam kasih setianya. Dilanjutkan dengan…
- Nyanyian pujian sebagai respon jemaat terhadap pengampunan Allah, sebagai ungkapan syukur jemaat atas kemurahan Allah. Dilanjutkan dengan…
- Pembacaan epistel: jemaat sudah diampuni kini saatnya mendengar firman Tuhan sebagai tuntunan hidup baru dengan janji berbahagialah… dan jemaat mengamininya. Dilanjutkan dengan…
- Nyanyian pujian sebagai respon jemaat terhadap tuntunan hidup baru, dan sebagai tekad untuk melakukan hidup baru. Dilanjutkan dengan…
- Pengakuan iman percaya: sebagai ikrar jemaat bahwa hidup baru bisa diwujudkan di dalam pengakuan terhadap Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena hidup baru itu adalah miliknya dan pemberiannya. Pengakuan ini diucapkan dengan berani, tegas, sungguh, tulus, tanpa paksaan. Dilanjutkan dengan…
- Pembacaan warta jemaat. Intinya pemberitahuan kepada jemaat pelayanan gereja supaya jemaat peduli dan mendoakan pelayanan gereja. Dilanjutkan dengan…
- Nyanyian pujian sebagai ungkapan hati jemaat telah siap mendengar firman Tuhan. Dilanjutkan dengan…
- Doa epiklese-pembacaan alkitab-khotbah: diawali permohonan penerangan Roh Kudus, pemberitaan kerajaan Allah yang di dalamnya ada pengajaran, penghiburan, penguatan, dan keselamatan. Dilanjutkan dengan…
- Persembahan diikuti dengan nyanyian pujian: persembahan merupakan tanda pengucapan syukur atas berkat Tuhan terutama atas pendamaian dengan Tuhan melalui pengorbanan Kristus. Jemaatnya memberikannya dengan penuh puji melalui nyanyian. Dilanjutkan dengan…
- Doa penutup: mendoakan persembahan yang telah terkumpul, sekaligus doa untuk mempersembahkan keseluruhan hidup. Jemaat mengungkapkannya melalui nyanyian Tuhan karuniamulah… sebagai pengakuan bahwa apa yang dimiliki adalah pemberian Tuhan. Dilanjutkan dengan…
- Doa Bapa Kami sebagai doa umat yang diajarkan oleh kristus, di dalamnya termuat pujian, permohonan, penyerahan diri, dan pengakuan untuk dinyatakan di dalam kehidupan setiap hari. Dilanjutkan dengan…
- Berkat sebagai pengutusan jemaat setelah mengalami persekutuan yang indah dengan Tuhan dan sesama di dalam ibadah. Jemaat diutus bahwa Tuhan adalah jaminan hidup bagi umat. Dilanjutkan dengan…
- Doa majelis di konsistori sebagai ungkapan syukur majelis kepada Tuhan atas kemurahan Tuhan, membimbing, memakai majelis memimpin ibadah
Hasil
wawancara dengan ibu Pdt Resna Tiarasi Malau, S.Th, Gembala jemaat HKBP Harapan
Jaya.
Unsur-unsur Liturgi yang tertuang dalam
tatanan liturgy HKBP merupakan suatu kebanggaan bagi jemaat HKBP dan sangat
relevan sebagai suatu kebutuhan jemaat. Dan semuanya itu dibuat sesuai dengan
kebutuhan dan tidak asal-asal dibuat.seperti votum yang mendeklarasikan
kehadiran Allah dan didahului oleh lagu pembuka. Liturgy HKBP yang tidak
mengalami perubahan tidak berdampak bagi jemaat. Liturgy tidak harus
menyesuaikan zaman tapi nanyian bisa menyesuaikan. kalau kidung pujian di HKBP
bersifat terbuka. Dalam acara-acara tertentu sudah dipakai lagu-lagu
kontemporer seperti paskah naposo dan masih banyak lagi. Dan dalam agenda HKBP
semua makna unsur liturgy sudah tertuang. HKBP mempunyai liturgy yang
sistematis mulai dari minggu pertama sampai dengan Natal. Nyanyian disesuaikan
dengan urutan liturgy. HKBP tidak terlalu kaku dengan lagu pujian. Tapi
terkadang lagu membawa jemaat terlalu menghadirkan emosianal yang berlebihan.
Ketika kita bernyanyi kita tidak berada diawang-awang tapi kita berada didunia
yang realistis. Dan semua gereja yang merupakan pecahan dari HKBP tetap juga
secara system tetap mengikuti gereja HKBP meskipun dalam bahasa yang berbeda.
Yang menjadi alasan mengapa HKBP dalam memuji Tuhan lebih memilih suasana yang
tenang. Karena itulah yang diajarkan oleh pengajaran para misionaris dan
disesuaikan dengan budaya batak. HKBP selalu mempersiapkan jemaat yang
visioner. Hal yang dibanggakan dan sekaligus menjadi titik koreksi yaitu
realita jemaat yang HKBP yang apa adanya dalam memuji nama Tuhan. Ada juga
penyataan yang mengatakan HKBP monoton, sebenarnya gereja lain juga monoton
tapi karena tidak terus diikuti maka terkesan sangat luar biasa. Tapi kalau
diikuti mungkin sama saja. Liturgy kadang membawa penyataan bahwa kita lebih
baik dari yang lain. Cara bernyanyi harus mengejewantahkan lirik lagu jika
nyanyian sukacita harus diekspresikan dengan sukacita. Inilah yang menjadi
ironi di jemaat HKBP terkadang lagu yang
sukacita tidak diekspresikan dengan semestinya.
Asal-usul
liturgy HKBP
Awalnya liturgy HKBP adalah Lutheran.
Namun melihat kembali bahwa Lutheran juga masih ada yang mengikuti unsur-unsur
liturgy Katolik. Seperti perjamuan kudus yang harus tiap minggu yaitu sebagai
pelayanan meja. Kalau HKBP tidak tapi hanya pada momen tertentu seperti Paskah,
Natal dan juga misalnya jika ada yang di Sidi. Ketika orang bertanya pada
mulanya kepada Ephorus HKBP, Justin Sihombing; aliran HKBP itu apa? Dia
mengatakan “HKBP is HKBP”. Yang
menarik di agenda HKBP ada dua bangsa yaitu “bangsa nami (bangsa Indonesia) dan
bangsa batak” dan hal ini sudah ingin direvisi sejak tahun 2000 tapi hingga
saat ini belum juga dilakukan.
CONTOH LITURGY IBADAH MINGGU BERDASARKAN AGENDA HKBP
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
·
Votum –
Introitus (Doa Pembukaan)
Di dalam Nama
Allah Bapa,
dan Nama
AnakNya Tuhan Yesus Kristus
dan Nama Roh
Kudus,
yang
menciptakan langit dan bumi. Amin
|
· Votum –
Introitus.
Marhite-hite
Goar ni Debata Ama,
dohot Goar ni
AnakNa Tuhan JesusKristus,
dohot Goar ni
Tondi Parbadia,
na tumompa
langit dohot tano on. Amin
|
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
· Pembacaan
Hukum Taurat / Hukum Tuhan
|
· Manjaha Patik
|
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
·
Pengakuan
Dosa
|
· Manopoti Dosa
|
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
·
Epistel
(Pembacaan Firman )
– Biasanya
dilakukan secara Responsoria
|
·
Epistel
– Responsoria
|
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
·
Pengakuan
Iman Rasuli
|
· Manghatindanghon
Haporseaon
|
|
·
Warta Jemaat
|
· Tingting
|
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
·
Khotbah
|
· Jamita
|
|
Nyanyian
Bersama
|
Marende Huria
|
|
·
Doa
Persembahan &
Nyanyian Persembahan
BE No.204
|
· Tangiang
Pelean dohot
Ende Pelean.
BE No.204 : 2
|
|
·
Doa Penutup /
Doa Bapa Kami /
Doa Berkat.
Pulanglah
dengan sejahtera
Dan terimalah Berkat Tuhan:
dan
terimalah Berkat Tuhan:
“Tuhan
memberkati engkau
dan
melindungi engkau/kita,
Tuhan
menyinari engkau dengan wajahNya
dan
memberi engkau/kita Kasih Karunia,
Tuhan
menghadapkan wajahNya kepada mu/kita
dan memberi
engkau/kita damai sejahtera.”
Amin, Amin,
Amin.
|
· Tangiang
Panutup / Ale Amanami /
Pasu-pasu.
Mulak ma
ho/hamu dibagasan dame:
“Dipasu-pasu
jala diramoti
Tuhan Debata
ma ho/hita,
Disondangkon
Tuhan Debata
ma bohiNa tu
ho/hita,
jala
asi ma horaNa mida ho/hita *) !
Didompakkon
Tuhan Debata
ma bohiNa tu
ho/hita,
jala
dipasaorhon ma dameNa
tu
tondim/tondinta be.”
Amin, Amin,
Amin.
|
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebelum kekristenan memasuki tanah
Batak sesungguhnya orang Batak sudah mempercayai bahwa ada satu kekuatan yang
berada di luar diri mereka sendiri yang diyakini dapat memberi berkat.
Kepercayaan dan keyakinan ini mendorong mereka membuat upacara-upacara sebagai
bentuk penghormatan dan ketundukan kepada kekuatan yang berada di luar diri
mereka. Berbagai bentuk upacara yang mereka lakukan sesuai dengan peristiwa
yang dialami dan di setiap upacara pemberian persembahan dalam bentuk korban
hewan peliharaan dan hasil panen selalu dilaksanakan. Bentuk upacara yang
dilaksanakan tidak selalu sama, namun disusun sedemikian rupa sesuai dengan
peristiwa yang dialami dengan maksud supaya kehidupan terberkati. Dengan
demikian praktek pemujaan orang Batak pada awalnya berorientasi kepada
kepentingan mereka sendiri yaitu supaya roh nenek moyang tidak mengganggu
kehidupan dan berkenan memberkati hasil pekerjaan pertanian mereka.
Setelah kekristenan praktek upacara-
upacara ini tetap dilakukan dengan mengambil unsur-unsur positif dari budaya
dan mengarahkan bentuk-bentuk upacara kepada penyembahan Allah. Unsur budaya
tidak semuanya ditolak atau dibuang tetapi dalam missi kekristenan unsur-unsur
budaya tertentu justru dipergunakan dalam upacara-upacara kekristenan.
Seiring dengan dimulainya penginjilan
ke tanah Batak praktek peribadahan tetap mengalami perkembangan. Praktek
peribadahan HKBP pada awalnya dibawa oleh RMG yang bercorak “uniert” tetapi di
dalam perkembangan selanjutnya bahwa di dalam tubuh HKBP mengalir dasar-dasar
teologi yang diperoleh dari Gereja muda yang digunakan dalam Katolik Roma,
nyanyian-nyanyian mazmur yang biasa digunakan Gereja Calvinis dan nyanyian yang
berjiwa pietis. Sedangkan yang berasal dari Gereja “uniert” adalah
nyanyian-nyanyian (lagu-lagu koor), pemahaman dan pelaksanaan Baptisan dan
Perjamuan Kudus. Pengaruh Calvinisme dalam praktek peribadahan HKBP dapat juga
dilihat dari adanya penggunaan nyanyian-nyanyian Mazmur dan pencatuman
pembacaan Hukum Taurat dalam tata ibadah Minggu.
Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa
HKBP dalam praktek peribadahannya dipengaruhi oleh pengalaman budaya yang
disebut sebagai preparation evanggelica, hasil missi RMG yang di dalamnya
terdapat teologi-teologi Gereja muda dan pengaruh Calvinis. HKBP tidak sepenuhnya
bercorak Lutheran, hanya saja lebih didominasi oleh corak ajaran dan ibadah
Lutheran. Demikian juga unsur-unsur tata ibadah yang dilakukan di HKBP tetap
mengalami perkembangan dan bersifat dinamis.
Refleksi Teologis
Berdasarkan pembahasan pengertian liturgi dan sejarah asal usul serta
perkembangan awal liturgi, latar belakang peribadahan di HKBP, pemahaman
unsur-unsur liturgi HKBP, pembaruan liturgi protestan, kontekstualisasi
liturgi, serta hasil analisa praktek peribadahan dan upaya kontekstualisasi
liturgi di HKBP, maka ada beberapa kesimpulan sebagai refleksi teologis yang
perlu disampaikan:
1. Rasul Paulus
mengingatkan kepada jemaat di Roma tentang bagaimana mereka harus mewujudkan
ibadah yang sejati atau yang benar. Pertama, adalah mempersembahkan tubuh
sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah. Allah adalah subyek
ibadah dan kepada-Nyalah ibadah ditujukan. Konsentrasi ibadah yang dilakukan
manusia semuanya berpusat kepada Allah. Obyek peribadahan adalah diri pribadi secara
paripurna atau seluruh eksistensi manusia. Kedua, jangan kamu menjadi serupa
dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu. Untuk peribadahan
yang benar kepada Allah, diri pribadi harus berubah. Introspeksi dan perubahan
merupakan bagian dari kondisi yang patut dikerjakan dalam rangka melaksanakan
peribadahan yang benar, yaitu kondisi tidak serupa dengan dunia ini. Kehidupan
yang sama dengan dunia dalam hal moral, tingkah laku, sikap hidup dan
semacamnya, harus diubah dan disesuaikan kepada kehendak Allah.
2. Dalam rangka
melaksanakan peribadahan disusunlah tata cara ibadah atau liturgi. Dengan
menyusun liturgi dimaksud, akan berwujud peribadahan yang benar di mana
persembahan diri dan kondisi tidak serupa dengan dunia terpenuhi. Kata liturgi
yang pada awalnya adalah istilah umum yang berlaku di masyarakat Romawi yaitu leitourgia
memiliki arti pelayan bangsa, pelayanan masyarakat, kemudian penggunaannya
diperluas dalam pelayanan-pelayanan kultis. Sebagaimana pemahaman Paulus,
liturgi tidak saja terbatas pada tata ibadah atau perayaan gereja, tetapi
menyangkut sikap beriman sehari-hari. Dengan demikian liturgi adalah kreasi
teologis yang sekaligus teoritis dan praktis, artinya jika liturgi hanya berupa
teori, maka ia tinggal sebagai dogma, padahal liturgi merupakan juga kegiatan
praktis gereja. Gereja adalah tubuh Kristus yang menjadi nyata melalui sikap
hidup anggotanya yang telah diperbarui. Oleh karena itu liturgi dipahami
sebagai perayaan teologi atau teologi yang dirayakan.
Di dalam kehidupan gereja, liturgi sejajar dengan ibadah dan kebaktian,
sekalipun di dalam penggunaannya istilah-istilah ini sering dirancukan,
misalnya dalam penulisan buku acara sering dituliskan “ acara liturgi ibadah
atau liturgi kebaktian, acara ibadah kebaktian”. Sudah saatnya gereja
menghentikan kerancuan ini dan kembali kepada pemahaman yang sesungguhnya.
“Bakti” adalah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, perbuatan baik,
memperhambakan diri kepada yang diagungkan atau dihormati. Dengan demikian istilah
liturgi mengandung pengertian dari dua aspek, vertikal dan horizontal yang
secara inherent menyatu di dalamnya.
Aspek vertikal dan horizontal dalam ibadah Perjanjian
Lama senantiasa ditekankan oleh Allah. Bangsa Israel harus melaksanakan
ibadahnya dengan benar dan ibadah yang benar adalah menyembah Allah dan
melaksanakan kegiatan yang menolong sesama manusia (Yes. 1:11-17). Sesempurna
apapun ibadah yang dilakukan kepada Tuhan, namun lalai memperhatikan
ketimpangan dalam masyarakat, dan melakukan ketidakadilan bagi yang lemah, yang
miskin, serta mengabaikan hak janda-janda dan yatim piatu, tidak peduli
terhadap keterbelakangan, kebodohan, kerusakan lingkungan yang mengakibatkan
penderitaan umat manusia, maka ibadah berada dalam sasaran kritik Nabi Yesaya.
3.
Pemahaman tentang pola peribadahan harus memiliki unsur tetap, tetapi juga
kontekstual dan praktis reflektif. Unsur tetap artinya pola peribadahan itu
harus vertikal dan horizontal. Kontekstual dan praktis artinya unsur di mana
kita berada sebagai bagian dari masyarakat yang berbudaya, merupakan bagian
hidup penyembahan kita. Peribadahan harus menyentuh konteks di mana kita hidup
dengan merefleksikan kenyataan yang menjadi pergumulan masyarakat pada saat
ini. Dengan demikian pola peribadahan yang tercermin dalam liturgi merupakan
refleksi iman orang Kristen terhadap kenyataan yang kongkrit tanpa
mengesampingkan unsur-unsur budaya yang dimiliki oleh setiap orang yang
beribadah.
4. Sebagaimana visi dan misi Gereja HKBP yang
tertuang dalam buku Aturan dan Peraturan HKBP 2002. Visi: “HKBP berkembang
menjadi Gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka, serta mampu dan bertenaga
mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,
bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat
Kristen, demi kemuliaan Allah Bapa yang mahakuasa”. Misi: “HKBP berusaha
meningkatkan mutu segenap warga masyarakat, terutama warga HKBP, melalui
pelayanan-pelayanan Gereja yang bermutu agar mampu melaksanakan amanat Tuhan
Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun
kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di
tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan abad ke-21”.
Melalui visi dan misi ini HKBP termasuk liturginya tidak statis tetapi
selalu dinamis mengikuti perkembangan sesuai dengan konteks dan terbuka
mengkaji setiap teologi yang berkembang. HKBP bukan Gereja yang langsung turun
dari sorga. HKBP lahir dan terbentuk dalam proses sejarah, demikian pula liturginya.
Melalui penelusuran sejarah dapat dicatat bahwa liturgi HKBP mengalami
perkembangan dan pembaruan sesuai dengan konteks. Upaya kontekstualisasi
liturgi mendapat perhatian dan penekanan Gereja HKBP sebagai “ecclesia
reformata semper reformanda” di setiap tempat dan situasi.
Saran
Kontekstualisasi liturgi adalah proses yang terus berjalan sejak
Gereja mula-mula beribadah, baik secara otomatis (alamiah) maupun sengaja
dilakukan penyesuaian. Ada beberapa metode penyesuaian, semisal: adaptasi,
inkulturasi, akulturasi, dan lain-lain, termasuk kontekstualisasi liturgi
adalah keberanian untuk membuat pembaruan. Pembaruan bukan sebatas meniru
liturgi lain, tetapi pembaruan dengan penelusuran historis dan konteks di mana
Gereja berdiri. Dengan kontekstualisasi liturgi, maka liturgi tidak pernah
seragam sejak zaman Gereja mula-mula.
Ada
beberapa saran yang realistis untuk upaya kontekstualisasi liturgi HKBP kini
dan masa depan:
1. Sudah saatnya
HKBP memperbaiki cara beribadahnya. Bukan menukar atau mengganti cara
beribadah, namun mengevaluasi diri sendiri dari akar tradisi yang dimilikinya.
2. Sudah saatnya
HKBP mengikutsertakan atau melibatkan warga jemaat untuk membahas pembaruan
liturgi, dengan meninggalkan sikap monopoli pelayanan, serta bersikap terbuka
menghadapi tantangan era baru.
3. Melibatkan
anggota jemaat dalam liturgi. Kunci dari ibadah yang hidup adalah terjadinya
partisipasi yang penuh (participatory worship selama ibadah, di
mana anggota jemaat benar-benar terlibat secara aktif, sadar, dan berbuah.
Karena Gereja adalah Imamat Rajani, anggota jemaat harus diberi peran dalam
ibadah, sesuai karunia masing-masing, semisal:
3.1. Paduan Suara (choristers)
Peran paduan suara yang utama bukanlah unjuk kebolehan,
melainkan menolong jemaat bernyanyi. Jika paduan suara duduk di depan dan terlihat oleh jemaat, mereka
dapat memberi contoh (teladan) bagaimana melakukan ritus-ritus ibadah dengan
benar.
3.2. Song Leader (Cantor)
Song
Leader (Cantor)
adalah pemimpin nyanyian. Ia dapat dipilih dari orang yang memiliki talenta
musik sekaligus mampu mendidik. Selain memimpin jemaat bernyanyi dalam ibadah, cantor
memperkenalkan lagu baru kepada jemaat dan mengoreksi kesalahan menyanyi.
3.3. Lektor
Sejak
ibadah di sinagoge sudah ada ketentuan bahwa jika lebih dari 10
orang anggota jemaat hadir, Kitab Taurat dibacakan oleh salah
satu lelaki dewasa yang hadir (bnd Luk. 4:16-17). Tradisi pembacaan Alkitab
oleh anggota jemaat diteruskan di gereja. Paulus menasihatkan jemaat untuk
hadir dalam ibadah membawa “pengajaran” (1Kor. 14:26, kata aslinya “didache”
yang berarti pengajaran Yesus atau Para Rasul yang tertulis dalam kitab-kitab,
1Tim. 4:13, Kol. 4:16). Kita dapat menunjuk anggota jemaat untuk membaca
Alkitab. Memilih orang yang mampu membaca dengan hidup, tidak monoton, dan
sesuai dengan karakter teks yang dibaca. Di sini diperlukan latihan dan
pendampingan.
3.4. Koordinator
Dalam ibadah, koordinator sangat dibutuhkan untuk memadukan pekerjaan
dari pelbagai pemimpin liturgi. Sama seperti manajer panggung
(stage manager), tugasnya mengatur agar ibadah berjalan sesuai dengan
rencana. Ia harus memastikan kesiapan instrument pendukung ibadah, bahwa para
petugas telah hadir dan memahami bagiannya masing-masing, dan segala sesuatu
berjalan lancar.
3.5. Mempersiapkan Sarana dan Prasarana Gereja
Faktor lain dalam
upaya kontekstualisasi liturgi ini adalah persiapan sarana dan pra-sarana
Gereja. Yang dimaksud sarana-prasarana di sini adalah: gedung, perlengkapan,
peraturan gereja, maupun iklim jemaatnya dan sumber daya manusianya,
menyangkut: pengkhotbah, liturgos, pemandu pujian, pemusik, paduan suara, tim
penyambutan, petugas sound, dll. Semuanya dapat menolong jemaat
beribadah lebih khusuk atau sebaliknya mengganggu jalannya ibadah.
I.
Pengkhotbah
yang dapat menyampaikan Firman Tuhan dengan komunikatif akan menolong jemaat
bergumul dengan Firman. Sebaliknya, pengkhotbah yang tidak siap akan membuat
jemaat jenuh dan malas mengikuti khotbah.
II.
Pemusik dapat
menolong jemaat mengekspresikan imannya dalam pujian, namun jika ia memainkan
lagu dengan tempo yang keliru atau gaya yang tidak sesuai, ia bisa menghalangi
jemaat menyanyi dengan sepenuh hati.
III.
Petugas sound
dapat menolong jemaat mendengarkan khotbah dengan jelas dan menciptakan keseimbangan
yang harmonis antara suara musik dengan suara jemaat saat menyanyi. Sebaliknya,
pengaturan yang keliru (munculnya feedback, microphone lupa dinyalakan,
volume sound system memekakkan telinga) dapat merusak suasana ibadah.
IV.
Ruang ibadah
juga menentukan tingkat partisipasi jemaat. Ruangan yang akuistiknya buruk
membuat jemaat malas bernyanyi karena suara mereka hilang tertelan. Ruangan
ibadah dapat menciptakan suasana teduh dan reflektif, sebaliknya dapat juga
membuat jemaat sukar berkonsentrasi.
Memberdayakan semua unsur di dalam Gereja adalah misi yang harus dilakukan demi
upaya kontekstualisasi liturgi di HKBP.
4. Sudah saatnya
HKBP mengangkat komisi liturgi yang independen dan langgeng untuk menjadi
fasilitator, penasihat, peneliti, pengembang, dan memperlengkapi jemaat untuk
memahami unsur-unsur tata ibadah secara teologis, dan historis.
5. Musik dan
nyanyian merupakan ungkapan yang menyentuh hati manusia. Oleh sebab itu
penggubahan musik dan nyanyian yang kontemporer dan mengandung unsur-unsur
budaya diperlukan.
6. Sebagian
rumusan doa-doa yang terdapat di dalam buku Agenda perlu direvisi. Salah satu
contoh dalam Agenda HKBP tercantum doa:[17]
“Sai gomgomi jala parentai ma huriaM di tano Batak on, asa lam rarat
jala monang huriaMi” (terj. sertai dan pimpinlah Gereja-Mu di tanah Batak ini,
supaya berkemenangan dan berkembang”.
Rumusan ini dipahami dalam kerangka konteks historis yang tentu tidak
relevan untuk HKBP yang ada di luar tanah Batak. Di samping itu rumusan-rumusan
doa jangan hanya memakai rumusan-rumusan lama (tradisional), tetapi juga
rumusan-rumusan baru yang lebih sesuai dengan situasi jemaat pada saat itu.
Untuk membuat rumusan-rumusan baru ini, maka diberikan kebebasan kepada setiap
Gereja untuk merumuskannya sesuai pergumulan atau situasi jemaat setempat.
DAFTAR
PUSTAKA
Hastings
James, Encyclopedia of Relegion and Ethics vol.29, (New York:
Charles Scribner’s Sons, 1955.
G
Riemer, Cermin Injil, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,
1995
Douglas
J.D. (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid I,
Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004
F.
White James, Pengantar Ibadah Kristen, BPK-GM, Jakarta:2011
Martasudjita,E.
Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi
(Yogyakarta: Kanisius 1999
Van Dop H.A., “Hakekat dan Makna Liturgi”, Liturgi
dan Komunikasi; (Jakarta: Yakoma PGI, 2005), 104.
O.Carm Bosco Da Cunha, Teologi Liturgi dalam Hidup
Gereja (Madang: Dioma, 2004
G. Riemer, Cermin Injil (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1995
Rachman; Pembaruan Ibadah : Pengantar Teologi Liturgi
(
http://sofiswa.blogspot.com/2011/12/agama-kristen-protestan.html
[1] James Hastings, Encyclopedia of Relegion and
Ethics vol.29, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1955),
hlm.527.
[2] Riemer G, Cermin Injil,
(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995), hlm.52
[3] J.D. Douglas (ed.), Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini jilid I, (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 2004), hlm.409.
[4] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, BPK-GM,
Jakarta:2011, 22-23
[5] E.Martasudjita, Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi
(Yogyakarta: Kanisius 1999), 18.
[6] H.A.Van Dop, “Hakekat dan Makna Liturgi”, Liturgi dan Komunikasi; (Jakarta:
Yakoma PGI, 2005), 104. Pengertian
liturgi secara kultis terutama digunakan oleh kelompok LXX ketika menerjemahkan
Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani pada abad ke-2 hingga ke-3
sebelum masehi. Dalam terjemahan Septuaginta itu kata leitourgia digunakan untuk
menunjukkan pelayanan ibadat para Imam atau kaum Lewi di hadapan Tuhan.
[7] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, BPK-GM,
Jakarta:2011, 1-35.
[8]
http://sofiswa.blogspot.com/2011/12/agama-kristen-protestan.html
[14] Menghilangnya istilah “liturgi” dari
kamus Gereja Barat berkaitan dengan penerjemahan Kitab Suci dari bahasa Yunani
ke bahasa Latin (Vulgata) yang dilakukan oleh Hironimus (347-420). Dalam
Vulgata kata “liturgi” umumnya diterjemahkan
dengan kata minister atau officium (misalnya Luk.1:23, 2Kor
9: 12). Sebagai ganti istilah liturgi dalam kamus peribadahan digunakan bebagai
istilah lain: Officia divina
yaitu titel dari kebanyakan karya/ buku tentang liturgi. Kini biasanya dipakai
hanya untuk liturgi harian. Ritus atau ibadat yaitu titel buku
yang amat disukai dari abad ke-16 hingga ke-20 (misalnya: Rituale Romanum,
Kongregasi Ibadat). Istilah ini biasanya diartikan sebagai sisi luar dari
liturgi, yakni dari aspek manusia yang beribadah kepada Allah. Caeremoniae atau upacara, yaitu
titel dari beberapa buku liturgi dari abad ke-16 dan 17 dan hanya kadang-kadang
digunakan dalam dokumen Vatikan II (misalnya: Kanon 788,1).
[15] Rasid Rachman; Pembaruan Ibadah : Pengantar Teologi Liturgi (Bahan
Perkuliahan Intensif Mahasiswa D.Min, STT Jakarta, 19-20 Oktober
2005), 5-6.
[17] Agenda HKBP, 96. Bagian doa kenaikan
Tuhan Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar